<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Fransiskusharianja&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://fransiskusharianja.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://fransiskusharianja.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 24 Feb 2010 09:26:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='fransiskusharianja.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Fransiskusharianja&#039;s Blog</title>
		<link>http://fransiskusharianja.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://fransiskusharianja.wordpress.com/osd.xml" title="Fransiskusharianja&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://fransiskusharianja.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Marga Batak Toba</title>
		<link>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/marga-batak-toba/</link>
		<comments>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/marga-batak-toba/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 08:21:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fransiskusharianja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fransiskusharianja.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Marga Batak Toba Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Langsung ke: navigasi, cari Orang Batak selalu memiliki nama marga/keluarga. Nama / marga ini diperoleh dari garis keturunan ayah (patrilinear) yang selanjutnya akan diteruskan kepada keturunannya secara terus menerus. Marga Batak Toba adalah marga pada Suku Batak Toba yang berasal dari daerah di Sumatera Utara, terutama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fransiskusharianja.wordpress.com&amp;blog=12214982&amp;post=29&amp;subd=fransiskusharianja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 id="firstHeading">Marga Batak Toba</h1>
<h3 id="siteSub">Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas</h3>
<div id="jump-to-nav">Langsung ke: <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Marga_Batak_Toba#column-one">navigasi</a>, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Marga_Batak_Toba#searchInput">cari</a></div>
<p><!-- start content -->Orang <a title="Batak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Batak">Batak</a> selalu memiliki nama <a title="Marga" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Marga">marga</a>/<a title="Keluarga" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keluarga">keluarga</a>. Nama / marga ini diperoleh dari garis keturunan <a title="Ayah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ayah">ayah</a> (patrilinear) yang selanjutnya akan diteruskan kepada keturunannya secara terus menerus.</p>
<p><strong>Marga Batak Toba</strong> adalah marga pada <a title="Suku Batak Toba" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Batak_Toba">Suku Batak Toba</a> yang berasal dari daerah di Sumatera Utara, terutama berdiam di <a title="Kabupaten Tobasa (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kabupaten_Tobasa&amp;action=edit&amp;redlink=1">Kabupaten Tobasa</a> yang wilayahnya meliputi Balige, Porsea, Laguboti, dan sekitarnya.</p>
<table id="toc">
<tbody>
<tr>
<td>
<div id="toctitle">
<h2>Daftar isi</h2>
<p>[<a id="togglelink" href="toggleToc()">sembunyikan</a>]</div>
<ul>
<li><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Marga_Batak_Toba#Asal-Usul">1 Asal-Usul</a></li>
<li><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Marga_Batak_Toba#Hubungan_Antar_Marga">2 Hubungan Antar Marga</a></li>
<li><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Marga_Batak_Toba#Tarombo">3 Tarombo</a></li>
<li><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Marga_Batak_Toba#Lihat_pula">4 Lihat pula</a></li>
</ul>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>// </p>
<h2>[<a title="Sunting bagian: Asal-Usul" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Marga_Batak_Toba&amp;action=edit&amp;section=1">sunting</a>] Asal-Usul</h2>
<p>Menurut kepercayaan bangsa <a title="Batak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Batak">Batak</a>, induk marga Batak dimulai dari <strong>Si Raja Batak</strong> yang diyakini sebagai asal mula orang Batak. <em>Si Raja Batak</em> mempunyai 2 (dua) orang putra yakni Guru Tatea Bulan dan Si Raja Isumbaon. Guru Tatea Bulan sendiri mempunyai 5 (lima) orang putra yakni Raja Uti (Raja Biakbiak), Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja dan Malau Raja. Sementara Si <a title="Raja Isumbaon (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Raja_Isumbaon&amp;action=edit&amp;redlink=1">Raja Isumbaon</a> mempunyai 3 (tiga) orang putra yakni <a title="Tuan Sorimangaraja (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tuan_Sorimangaraja&amp;action=edit&amp;redlink=1">Tuan Sorimangaraja</a>, <a title="Si Raja Asiasi (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Si_Raja_Asiasi&amp;action=edit&amp;redlink=1">Si Raja Asiasi</a> dan <a title="Sangkar Somalidang (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sangkar_Somalidang&amp;action=edit&amp;redlink=1">Sangkar Somalidang</a>.</p>
<p>Dari keturunan (<em>pinompar</em>) mereka inilah kemudian menyebar ke segala penjuru daerah di Tapanuli baik ke utara maupun ke selatan sehingga munculah berbagai macam marga Batak. Semua marga-marga ini dapat dilihat kedudukan dari Si Raja Batak di <a rel="nofollow" href="http://www.tarombo.net/">Tarombo Online</a>.</p>
<p>Legenda mengenai bagaimana Si Raja Batak dapat disebut sebagai asal mula orang Batak masih perlu dikaji lebih dalam.</p>
<p>Sebenarnya Kabupaten Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Tobasa, dan Samosir sekarang <em>tidaklah semuanya</em> Toba.Sejak masa Kerajaan Batak hingga pembagian wilayah yang didiami suku Batak ke dalam beberapa distrik oleh <a title="HKBP" href="http://id.wikipedia.org/wiki/HKBP">Huria Kristen Batak Protestan</a> (HKBP), <a title="Tano Batak (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tano_Batak&amp;action=edit&amp;redlink=1">Tanah Batak</a> dibagi menjadi 4 (empat) bagian besar, yaitu:</p>
<ol>
<li>Samosir (Pulau Samosir dan sekitarnya); contoh: marga Simbolon,Sagala, dsb</li>
<li>Toba (Balige, Laguboti,Porsea, Parsoburan, Sigumpar, dan sekitarnya); contoh: marga Sitorus, Marpaung, dsb</li>
<li>Humbang (Dolok Sanggul, Lintongnihuta, Siborongborong, dan sekitarnya); contoh: marga Simatupang Siburian, Sihombing Lumban Toruan, dsb</li>
<li>Silindung (Sipoholon, Tarutung, Pahae, dan sekitarnya); contoh: marga Naipospos (Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, Marbun), Huta Barat,dsb</li>
</ol>
<h2>[<a title="Sunting bagian: Hubungan Antar Marga" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Marga_Batak_Toba&amp;action=edit&amp;section=2">sunting</a>] Hubungan Antar Marga</h2>
<p>Hubungan antar marga di masing-masing suku Batak berbeda jenisnya. Pada Suku Batak (Samosir-Toba-Humbang-Silindung) hubungan marga ini dapat dilihat dari asal muasal marga tersebut pada garis keturunan Raja Batak. Semakin dekat dengan Raja Batak, maka semakin dituakanlah marga tersebut.</p>
<p>Satu hal yang pasti, 2 orang yang bermarga sejenis (tidak harus sama) secara hukum adat tidak diperbolehkan untuk menikah. Pelanggaran terhadap hukum ini akan mendapat sangsi secara adat.</p>
<p>Tidak ada pengklasifikasian tertentu atas jenis-jenis marga ini, namun marga-marga biasanya sering dihubungkan dengan rumpunnya sebagaimana <a title="Bahasa Batak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Batak">Bahasa Batak</a>. Misalnya Simatupang merupakan perpaduan dari putranya marga Togatorop, Sianturi, dan Siburian yang ada di wilayah <strong>HUMBANG</strong>. Naipospos merupakan perpaduan dari kelima putranya yang secara berurutan, yaitu marga Sibagariang, Huta Uruk, Simanungkalit, Situmeang, dan Marbun yang berada di wilayah <strong>SILINDUNG</strong>, dan sebagainya.</p>
<h2>[<a title="Sunting bagian: Tarombo" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Marga_Batak_Toba&amp;action=edit&amp;section=3">sunting</a>] Tarombo</h2>
<div><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/e/ef/Crystal_Clear_app_xmag.png/20px-Crystal_Clear_app_xmag.png" alt="!" width="20" height="20" />Artikel utama untuk bagian ini adalah: <a title="Tarombo" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tarombo">Tarombo</a></div>
<p>Silsilah atau tarombo merupakan cara orang batak menyimpan daftar silsilah marga mereka masing-masing dan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi orang Batak. Bagi mereka yang tidak mengetahui silsilahnya akan dianggap sebagai &#8220;orang Batak kesasar&#8221; (<em>nalilu</em>). Orang Batak khusunya lelaki diwajibkan mengetahui silsilahnya minimal nenek moyangnya yang menurunkan marganya dan teman semarganya (<em>dongan tubu</em>). Hal ini diperlukan agar mengetahui letak kekerabatannya (<em>partuturanna</em>) dalam suatu klan atau marga.</p>
<p>Beberapa contoh artikel yang membahas tarombo dari marga-marga Batak yaitu:</p>
<ul>
<li><a title="Silaban" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Silaban">Silaban</a></li>
<li><a title="Raja Naipospos" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raja_Naipospos">Raja Naipospos</a>, yang mempunyai lima putera dan menurunkan marga Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, Marbun Lumban Batu, Marbun Banjar Nahor, Marbun Lumban Gaol</li>
<li><a title="Si Opat Pusoran" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Si_Opat_Pusoran">Si Opat Pusoran</a>, yang menurunkan marga Hutabarat, Panggabean, Simorangkir, Hutagalung, Hutapea, Lumban Tobing</li>
</ul>
<p>bentuk klan adalah berupa suatu kumpulan orang per orang yang mempunyai satu bapak dan bisa beberapa ibu, karena suku batak menganut parternalistik</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fransiskusharianja.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fransiskusharianja.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fransiskusharianja.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fransiskusharianja.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fransiskusharianja.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fransiskusharianja.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fransiskusharianja.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fransiskusharianja.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fransiskusharianja.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fransiskusharianja.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fransiskusharianja.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fransiskusharianja.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fransiskusharianja.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fransiskusharianja.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fransiskusharianja.wordpress.com&amp;blog=12214982&amp;post=29&amp;subd=fransiskusharianja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/marga-batak-toba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a2f0735cff9cfe460f32c463464a590c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fransiskusharianja</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/e/ef/Crystal_Clear_app_xmag.png/20px-Crystal_Clear_app_xmag.png" medium="image">
			<media:title type="html">!</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ASAL-USUL A7X</title>
		<link>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/asal-usul-a7x/</link>
		<comments>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/asal-usul-a7x/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 08:14:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fransiskusharianja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fransiskusharianja.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Write some words about you and your blog here ASAL-USUL A7X Diposkan oleh nchie on Rabu, 10 Desember 2008 Terbentuknya Avenged Sevenfold Avenged Sevenfold terbentuk pada tahun 1999 di Orange County, California. Album pertama mereka, Sounding the Seventh Trumpet direkam ketika mereka masih berumur 18 tahun. Album ini dirilis dengan label Good Life Recordings, tetapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fransiskusharianja.wordpress.com&amp;blog=12214982&amp;post=25&amp;subd=fransiskusharianja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="rss"><a href="http://chickrock4eva.blogspot.com/feeds/posts/default"><img src="http://4.bp.blogspot.com/_66wIGDjagHk/SjJUk9-MuRI/AAAAAAAAAoE/tJkF-8HxBmM/s1600/spacer.gif" alt="RSS" width="44" height="44" /></a></div>
<div id="searchform">   </div>
<div id="about-me"><!-- replace the content with your about me text --> Write some words about you and your blog here</div>
<p><!-- google_ad_section_start(name=default) --><a name="7798683982064633362"></a></p>
<h3><a href="http://chickrock4eva.blogspot.com/2008/12/asal-usul-a7x.html">ASAL-USUL A7X</a></h3>
<div>
<div>Diposkan oleh nchie  on Rabu, 10 Desember 2008</div>
</div>
<p><a href="http://2.bp.blogspot.com/_ekQ_YzXJwF4/SUB5KV6COEI/AAAAAAAAABE/p3Lmw_ne-No/s1600-h/280px-Avenged_Sevenfold.jpg"><img src="http://2.bp.blogspot.com/_ekQ_YzXJwF4/SUB5KV6COEI/AAAAAAAAABE/p3Lmw_ne-No/s400/280px-Avenged_Sevenfold.jpg" border="0" alt="" /></a></p>
<h3>Terbentuknya Avenged Sevenfold</h3>
<p>Avenged Sevenfold terbentuk pada tahun 1999 di <a title="Orange County" href="http://www.blogger.com/wiki/Orange_County">Orange County</a>, <a title="California" href="http://www.blogger.com/wiki/California">California</a>. Album pertama mereka,  <a title="Sounding the Seventh Trumpet" href="http://www.blogger.com/wiki/Sounding_the_Seventh_Trumpet">Sounding the Seventh Trumpet</a> direkam ketika mereka masih berumur 18 tahun. Album ini dirilis dengan label <a title="Good Life Recordings (belum dibuat)" href="http://www.blogger.com/w/index.php?title=Good_Life_Recordings&amp;action=edit&amp;redlink=1">Good  Life Recordings</a>, tetapi setelah gitaris <a title="Synyster Gates" href="http://www.blogger.com/wiki/Synyster_Gates">Synyster Gates</a> masuk Avenged Sevenfold, album  ini dirilis ulang dengan label <a title="Hopeless Records (belum dibuat)" href="http://www.blogger.com/w/index.php?title=Hopeless_Records&amp;action=edit&amp;redlink=1">Hopeless  Records</a>. Lagu &#8220;To End The Rapture&#8221; juga direkam ulang, kali ini ditambahkan  dengan permainan gitar Synyster Gates.</p>
<p><a id="City_of_Evil_.282005-2007.29" name="City_of_Evil_.282005-2007.29"></a></p>
<h3><em>City of Evil</em> (2005-2007)</h3>
<p>Tahun <a title="2005" href="http://www.blogger.com/wiki/2005">2005</a>, Amerika Serikat tengah jenuh  dengan musik <a title="Hip-hop" href="http://www.blogger.com/wiki/Hip-hop">hip-hop</a> dan <a title="Pop" href="http://www.blogger.com/wiki/Pop">pop</a> yang merajalela, lalu Avenged Sevenfold merilis album  mereka <a title="City of Evil" href="http://www.blogger.com/wiki/City_of_Evil">City of Evil</a> tepatnya pada tanggal <a title="8 Juni" href="http://www.blogger.com/wiki/8_Juni">8 Juni</a>, 2005.  Hits single <a title="Bat Country (belum dibuat)" href="http://www.blogger.com/w/index.php?title=Bat_Country&amp;action=edit&amp;redlink=1">Bat  Country</a> merupakan lagu <a title="Metal" href="http://www.blogger.com/wiki/Metal">metal</a>/<a title="Rock" href="http://www.blogger.com/wiki/Rock">rock</a> pertama yang merajai MTV TRL. Mereka mempopulerkan kembali solo gitar dengan duet gitaris Synyster Gates dan Zacky Vengeance yang benar-benar memanaskan area moshpit. Album tersebut mendapat sertifikat gold dan memenangkan predikat Best New Artist in a Video di MTV VMA 2006 untuk lagu Bat Country.</p>
<p><a id="Avenged_Sevenfold_.282007-saat_ini.29" name="Avenged_Sevenfold_.282007-saat_ini.29"></a></p>
<h3><em>Avenged Sevenfold</em> (2007-saat ini)</h3>
<p>Tahun 2007, mereka kembali masuk studio untuk merekam lagu terbaru mereka  untuk studio album ke-5 mereka. Awal <a title="Agustus" href="http://www.blogger.com/wiki/Agustus">Agustus</a> <a title="2007" href="http://www.blogger.com/wiki/2007">2007</a>,  mereka menjalani tur Asia Pasifik mereka, dan sempat mampir di <a title="Indonesia" href="http://www.blogger.com/wiki/Indonesia">Indonesia</a> dan memainkan lagu mereka  pertama kali di depan publik. Lagu yang berjudul <a title="Almost Easy (belum dibuat)" href="http://www.blogger.com/w/index.php?title=Almost_Easy&amp;action=edit&amp;redlink=1">Almost  Easy</a> tersebut mendapat sambutan hangat dari penggemar di seluruh dunia.  Ketika itu band punk <a title="Jogjakarta" href="http://www.blogger.com/wiki/Jogjakarta">Jogjakarta</a> <a title="Endang Soekamti (belum dibuat)" href="http://www.blogger.com/w/index.php?title=Endang_Soekamti&amp;action=edit&amp;redlink=1">Endang  Soekamti</a> didaulat menjadi band pembuka.</p>
<p>Tahun 2008 ini, mereka berpartisipasi sebagai headliners di tour <a title="Taste of Chaos (belum dibuat)" href="http://www.blogger.com/w/index.php?title=Taste_of_Chaos&amp;action=edit&amp;redlink=1">Taste of  Chaos</a> bersama dengan <a title="Bullet for My Valentine (belum dibuat)" href="http://www.blogger.com/w/index.php?title=Bullet_for_My_Valentine&amp;action=edit&amp;redlink=1">Bullet  for My Valentine</a>, <a title="Atreyu (belum dibuat)" href="http://www.blogger.com/w/index.php?title=Atreyu&amp;action=edit&amp;redlink=1">Atreyu</a>, <a title="Blessthefall (belum dibuat)" href="http://www.blogger.com/w/index.php?title=Blessthefall&amp;action=edit&amp;redlink=1">Blessthefall</a> dan <a title="Idiot Pilot (belum dibuat)" href="http://www.blogger.com/w/index.php?title=Idiot_Pilot&amp;action=edit&amp;redlink=1">Idiot  Pilot</a>. Ketika tour, mereka merekam sebuah DVD yang mengandung 6 lagu baru  mereka.</p>
<p>Discography</p>
<ul>
<li><em><a title="Sounding the Seventh Trumpet" href="http://www.blogger.com/wiki/Sounding_the_Seventh_Trumpet">Sounding the Seventh Trumpet</a></em> (2001)</li>
<li><em><a title="Waking the Fallen (belum dibuat)" href="http://www.blogger.com/w/index.php?title=Waking_the_Fallen&amp;action=edit&amp;redlink=1">Waking  the Fallen</a></em> (2003)</li>
<li><em><a title="City of Evil" href="http://www.blogger.com/wiki/City_of_Evil">City of Evil</a></em> (2005)</li>
<li><em><a title="Avenged Sevenfold (album) (belum dibuat)" href="http://www.blogger.com/w/index.php?title=Avenged_Sevenfold_%28album%29&amp;action=edit&amp;redlink=1">Avenged  Sevenfold</a></em> (2007)</li>
<li><em><a title="Live in the LBC &amp; Diamonds in the Rough (belum dibuat)" href="http://www.blogger.com/w/index.php?title=Live_in_the_LBC_%26_Diamonds_in_the_Rough&amp;action=edit&amp;redlink=1">Live  in the LBC &amp; Diamonds in the Rough</a></em> (2008)</li>
</ul>
<p><a id="Anggota_saat_ini" name="Anggota_saat_ini"></a></p>
<h2>Anggota saat ini</h2>
<ul>
<li><a title="M. Shadows (belum dibuat)" href="http://www.blogger.com/w/index.php?title=M._Shadows&amp;action=edit&amp;redlink=1">M.  Shadows</a> &#8211; vokal</li>
<li><a title="Synyster Gates" href="http://www.blogger.com/wiki/Synyster_Gates">Synyster Gates</a> &#8211;  gitar melodi, piano, vokal</li>
<li><a title="Zacky Vengeance (belum dibuat)" href="http://www.blogger.com/w/index.php?title=Zacky_Vengeance&amp;action=edit&amp;redlink=1">Zacky  Vengeance</a> &#8211; gitar ritmik, vokal</li>
<li><a title="Johnny Christ (belum dibuat)" href="http://www.blogger.com/w/index.php?title=Johnny_Christ&amp;action=edit&amp;redlink=1">Johnny  Christ</a> &#8211; bass, vokal</li>
<li><a title="The Rev (belum dibuat)" href="http://www.blogger.com/w/index.php?title=The_Rev&amp;action=edit&amp;redlink=1">The Rev</a> &#8211;  drum, perkusi, vokal, piano</li>
</ul>
<p><a id="Ciri_khas" name="Ciri_khas"></a></p>
<h2>Ciri khas</h2>
<p>Mereka cenderung memainkan nuansa agresif pada vokal, gitar, dan drum (bass tetap statis). Dengan sentuhan yang dinamis, mau keras atau lambat, mereka tetap menggunakan harmonisasi yang luar biasa dan komposisi yang teratur. Sebut saja lagu-lagu yang sedikit melow, seperti Seize The Day dan Dear God, gitarnya tetap di drop Dm seperti halnya metal-metal kebanyakan. Kemudian, ciri khasnya selain komposisi dan drop, Syn memasukkan nuansa sweep picking (arpeggio) di hampir semua lagunya. Keindahan sweep picking yang dipadukan dengan kromatik, slide, dan teknik-teknik lainnya bisa kita dengar di lagu The Wicked End. Kemudian selain itu, tidak lupa juga sentuhan akustik yang membawa suasana seperti di Hawaii, bisa kita dengar di lagu Sidewinder. Tapi, satu lagi ciri khas yang tidak pernah lepas dari mereka, menduetkan gitar Syn dan Zacky, memakai double bass dengan tempo yang beberapa kali lipat beat-nya dari biasanya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fransiskusharianja.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fransiskusharianja.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fransiskusharianja.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fransiskusharianja.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fransiskusharianja.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fransiskusharianja.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fransiskusharianja.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fransiskusharianja.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fransiskusharianja.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fransiskusharianja.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fransiskusharianja.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fransiskusharianja.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fransiskusharianja.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fransiskusharianja.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fransiskusharianja.wordpress.com&amp;blog=12214982&amp;post=25&amp;subd=fransiskusharianja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/asal-usul-a7x/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a2f0735cff9cfe460f32c463464a590c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fransiskusharianja</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://4.bp.blogspot.com/_66wIGDjagHk/SjJUk9-MuRI/AAAAAAAAAoE/tJkF-8HxBmM/s1600/spacer.gif" medium="image">
			<media:title type="html">RSS</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://2.bp.blogspot.com/_ekQ_YzXJwF4/SUB5KV6COEI/AAAAAAAAABE/p3Lmw_ne-No/s400/280px-Avenged_Sevenfold.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Asal Usul manusia (2)</title>
		<link>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/asal-usul-manusia-2/</link>
		<comments>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/asal-usul-manusia-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 08:10:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fransiskusharianja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/asal-usul-manusia-2/</guid>
		<description><![CDATA[Asal Usul Manusia (2) &#8220;Sesungguhnya manusia itu (berasal) dari Adam. Dan Adam itu (diciptakan) dari tanah&#8221; (HR. Bukhari) Pada edisi yang lalu telah diuraikan tentang proses kejadian manusia pertama (Adam), manusia kedua (Siti Hawa), dan proses kejadian manusia keturunan Adam dan Hawa selain Nabi Isa a.s. Lalu bagaimanakah proses kejadian Nabi Isa a.s ? Dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fransiskusharianja.wordpress.com&amp;blog=12214982&amp;post=23&amp;subd=fransiskusharianja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family:Matura MT Script Capitals;color:#ff0000;font-size:x-large;"><strong>Asal Usul Manusia (2)</strong></span></p>
<p><span style="font-family:Monotype Corsiva;">&#8220;Sesungguhnya manusia itu (berasal) dari Adam. Dan Adam itu (diciptakan) dari tanah&#8221; (HR. Bukhari)</span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;">Pada edisi yang lalu telah diuraikan tentang proses kejadian manusia pertama (Adam), manusia kedua (Siti Hawa), dan proses kejadian manusia keturunan Adam dan Hawa selain Nabi Isa a.s.</span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;">Lalu bagaimanakah proses kejadian Nabi Isa a.s ? Dan bagaimana pula keterkaitan informasi dari Al Qur’an dengan bukti-bukti ilmiah tentang asal-usul manusia dan sanggahan adanya teori evolusi yang dikemukakan oleh Darwin ?</span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Proses kejadian Nabi Isa a.s</span></strong></span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;">Seperti telah kita ketahui bersama, nabi Isa a.s diciptakan oleh Allah dengan proses yang agak berbeda dengan kejadian manusia biasa. Penciptaan nabi Isa ini tidak melalui pembauran antara sel telur (ovum) dengan sel sperma, namun proses kehidupan embriyonya di dalam rahim berjalan normal seperti biasa, yaitu kelahiran nabi Isa a.s dari seorang wanita yang bernama Siti Maryam. Proses kejadian Nabi Isa a.s ini secara lengkap dijelaskan oleh Allah di dalam Surat Maryam (19) ayat 16 s/d 40.</span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;">Di dalam Al Qur’an Allah berfirman :</span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;"><em>&#8220;Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti penciptaan Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya : ‘Jadilah’ (seorang manusia) maka jadilah dia&#8221; (QS. Al Imran (3) : 59)</em></span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;">Ayat ini memberi gambaran kepada manusia bahwa Allah Maha Kuasa menciptakan segala sesuatu baik yang dapat diterima oleh akal maupun tidak akibat dari keterbatasan akal manusia. Hal ini juga dijelaskan oleh Allah di dalam firman-Nya :</span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;"><em>&#8220;Jibril berkata : ‘Demikianlah’. Tuhanmu berfirman : ‘Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai ramat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan&#8221; (QS. Maryam (19) : 21)</em></span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Asal Usul manusia menurut teori evolusi dan sanggahannya</span></strong></span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;">Teori evolusi ini dipelopori oleh seorang ahli zoologi bernama Charles Robert Darwin (1809-1882). Dalam teorinya ia mengatakan : <em>&#8220;Suatu benda (bahan) mengalami perubahan dari yang tidak sempurna menuju kepada kesempurnaan&#8221;. </em>Kemudian ia memperluas teorinya ini hingga sampai kepada asal-usul manusia. Menurutnya manusia sekarang ini adalah hasil yang paling sempurna dari perkembangan tersebut secara teratur oleh hukum-hukum mekanik seperti halnya tumbuhan dan hewan. Kemudian lahirlah suatu ajaran(pengertian) bahwa manusia yang ada sekarang ini merupakan hasil evolusi dari kera-kera besar (manusia kera berjalan tegak) selama bertahun-tahun dan telah mencapai bentuk yang paling sempurna.</span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;">Tetapi dalam hal ini Darwin sendiri kebingungan karena ada beberapa jenis tumbuhan yang tidak mengalami evolusi dan tetap dalam keadaan seperti semula. Walaupun pernyataan Darwin dalam bukunya yang berjudul &#8220;The Origin of Species&#8221; dapat dikatakan sukses besar karena membahas masalah yang menyangkut asal usul manusia, namun hal ini hanyalah bersifat dugaan belaka.</span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;">Hal ini diantaranya merupakan kelemahan teori yang dikemukakan oleh Darwin. Tidak ada titik temu antara teori yang ada dengan kenyataan. Sebagai contoh, para ahli zoologi sangat akrab dengan suatu species yang bernama <em>panchronic</em> yang tetap sama sepanjang masa. Juga ganggang biru yang diperkirakan telah ada lebih dari satu milyar tahun namun hingga sekarang tetap sama. Yang lebih jelas lagi adalah hewan sejenis biawak/komodo yang telah ada sejak berjuta-juta tahun yang lalu dan hingga kini tetap ada.</span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;">Di dalam teorinya Darwin berpendapat bahwa manusia berasal dari perkembangan makhluk sejenis kera yang sederhana kemudian berkembang menjadi hewan kera tingkat tinggi sampai akhirnya menjadi manusia. Makhluk yang tertua yang ditemukan dengan bentuk mirip manusia adalah Australopithecus yang diperkirakan umurnya antara 350.000 &#8211; 1.000.000 tahun dengan ukuran otak sekitar 450 &#8211; 1450 cm<sup>3</sup>. Perkembangan dengan perubahan volume otak ini besar pengaruhnya bagi kecerdasan otak manusia. Australopithecus yang mempunyai volume otak rata-rata 450 cm<sup>3</sup> berevolusi menjadi manusia kera (Neandertal) yang mempunyai volume otak 1450 cm<sup>3</sup>. Dari penelitian ini diperkirakan dalam waktu antara 400.000-500.000 tahun volume otak itu bertambah 1000 cm<sup>3</sup>. Tetapi anehnya perkembangan dari Neandertal ke manusia modern sekarang ini selama </span> <span style="font-family:Symbol;font-size:x-small;">±</span><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;"> 100.000 tahun volume otaknya tidak berkembang. Teori ini tidak mengemukakan alasannya.</span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;">Jadi secara jujur dapat kita katakan bahwa teori yang dianggap ilmiah itu ternyata tidak mutlak karena antara teori dengan kenyataan tidak dapat dibuktikan.</span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Perpaduan Al Qur’an dengan hasil penelitian ilmiah tentang asal-usul manusia pertama</span></strong></span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;">Terwujudnya alam semesta ini berikut segala isinya diciptakan oleh Allah dalam waktu enam masa. hal ini sesuai dengan firman Allah :</span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;"><em>&#8220;Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada iantara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam diatas Arsy (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah itu kepada Yang Maha Mengetahui.&#8221; (QS. Al Furqaan (25) : 59)</em></span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;">Keenam masa itu adalah Azoikum, Ercheozoikum, Protovozoikum, Palaeozoikum, Mesozoikum, dan Cenozoikum. Dari penelitian para ahli, setiap periode menunjukkan perubahan dan perkembangan yang bertahap menurut susunan organisme yang sesuai dengan ukuran dan kadarnya masing-masing. (tidak berevolusi).</span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;"><em>&#8220;&#8230;dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya&#8221; (QS. Al Furqaan (25) : 2)</em></span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;">Dari perpaduan antara Al Qur’an dengan hasil penelitian ini maka teori evolusi Darwin tidak dapat diterima. Dari penelitian membuktikan bahwa kurun akhir (cenozoikum) adalah masa dimana mulai muncul manusia yang berbudaya dan Allah menciptakan lima kurun sebelumnya lengkap dengan segala isinya adalah untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh manusia. Hal ini dijelaskan oleh Allah di dalam salah satu firman-Nya :</span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;"><em>&#8220;Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui atas segala sesuatu&#8221; (QS Al Baqarah (2) : 29)</em></span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;">Kemudian di dalam surat Al Baqarah ayat 31 s/d 32 Allah berfirman :</span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;"><em>&#8220;Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman : ‘Sebutlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!’. Mereka menjawab : ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain daripada apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS. Al Baqarah (2) : 31-32)</em></span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;">Untuk memelihara kelebihan ilmu yang dimiliki oleh Adam a.s maka Allah berkenan menurunkan kepada semua keturunannya agar derajat mereka lebih tinggi daripada makhluk yang lain. Apabila kita menilik kepada literatur-literatur yang berkaitan dengan masalah antropologi, maka akan tampak sekali keragu-raguan dari para ahli antropologi sendiri, apakah Homo Sapiens itu benar-benar berasal dari Pithecanthropus dan Sinanthropus ? Setelah melalui berbagai pertimbangan akhirnya para ahli mengambil kesimpulan bahwa Pithecanthropus dan Sinanthropus bukanlah asal (nenek moyang) dari Homo Sapiens (manusia), tetapi keduanya adalah makhluk yang berkembang dengan bentuk pendahuluan yang mirip dengan manusia kemudian musnah.</span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;"><em>&#8220;Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat : ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’. Mereka berkata : ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’. Tuhan berfirman : ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tdak kamu ketahui’.&#8221;(QS. Al Baqarah (2) : 30)</em></span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;">Dari ayat ini banyak mengandung pertanyaan, siapakah makhluk yang berbuat kerusakan yang dimaksud oleh malaikat pada ayat diatas. Dalam literatur Antropologi memang ada jawabannya yaitu sebelum manusia Homo Sapiens (manusia berbudaya) memang ada makhluk yang mirip dengan manusia yang disebut Pthecanthropus, Sinanthropus, Neanderthal, dan sebagainya yang tentu saja karena mereka tidak berbudaya maka mereka selalu berbuat kerusakan seperti yang dilihat para malaikat.</span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;">Nama-nama mkhluk yang diungkapkan para ahli antropologi diatas dapat pula ditemui dalam pendapat para ahli mufassirin. Salah satu diantaranya adalah Ibnu Jazir dalam kitab tafsir Ibnu Katsir mengatakan : <em>&#8220;Yang dimaksud dengan makhluk sebelum Adam a.s diciptakan adalah Al Jan yang kerjanya suka berbuat kerusuhan&#8221;</em></span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;">Dengan demikian dari uraian diatas maka dapatlah disimpulkan bahwa Adam a.s adalah manusia pertama, khalifah pertama dan Rasul (nabi) pertama. Hal ini sesuai dengan firman Allah :</span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;"><em>&#8220;Dan tidak ada suatu umatpun (manusia) melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan (Nabi)&#8221; (QS. Fathir : 24)</em></span></p>
<p><span style="font-family:Book Antiqua;font-size:x-small;"><em>&#8220;Tiap-tiap umat mempunyai Rasul&#8221; (QS. Yunus : 47)</em></span></p>
<p><span style="font-family:Monotype Corsiva;">Oleh : Fajar Adi Kusumo</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fransiskusharianja.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fransiskusharianja.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fransiskusharianja.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fransiskusharianja.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fransiskusharianja.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fransiskusharianja.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fransiskusharianja.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fransiskusharianja.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fransiskusharianja.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fransiskusharianja.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fransiskusharianja.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fransiskusharianja.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fransiskusharianja.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fransiskusharianja.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fransiskusharianja.wordpress.com&amp;blog=12214982&amp;post=23&amp;subd=fransiskusharianja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/asal-usul-manusia-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a2f0735cff9cfe460f32c463464a590c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fransiskusharianja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Asal-mula Pohon Natal</title>
		<link>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/asal-mula-pohon-natal/</link>
		<comments>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/asal-mula-pohon-natal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 08:08:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fransiskusharianja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/asal-mula-pohon-natal/</guid>
		<description><![CDATA[Asal-mula Pohon Natal oleh: Romo William P. Saunders * Kisah Pohon Natal merupakan bagian dari riwayat hidup St. Bonifasius, yang nama aslinya adalah Winfrid. St. Bonifasius dilahirkan sekitar tahun 680 di Devonshire, Inggris. Pada usia lima tahun, ia ingin menjadi seorang biarawan; ia masuk sekolah biara dekat Exeter dua tahun kemudian. Pada usia empatbelas tahun, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fransiskusharianja.wordpress.com&amp;blog=12214982&amp;post=21&amp;subd=fransiskusharianja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><span style="font-family:Tahoma;color:#990033;font-size:x-large;"><strong>Asal-mula Pohon Natal</strong></span></div>
<div><img src="http://www.indocell.net/yesaya/1x1.gif" border="0" alt="" hspace="0" vspace="0" width="1" height="16" align="bottom" /></div>
<div><span style="font-family:Tahoma;color:#990033;font-size:medium;"><em><strong>oleh: Romo William P. Saunders *</strong></em></span></div>
<div><img src="http://www.indocell.net/yesaya/1x1.gif" border="0" alt="" hspace="0" vspace="0" width="1" height="16" align="bottom" /></div>
<div><span style="font-family:Times New Roman;color:#000000;font-size:medium;"><img src="http://www.indocell.net/yesaya/192d187d0.jpg" border="0" alt="" hspace="0" vspace="0" width="280" height="381" align="bottom" /></span></div>
<div><span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;color:#000000;font-size:small;"><strong>Kisah Pohon Natal merupakan bagian dari riwayat hidup St. Bonifasius, yang nama aslinya adalah Winfrid. St. Bonifasius dilahirkan sekitar tahun 680 di Devonshire, Inggris. Pada usia lima tahun, ia ingin menjadi seorang biarawan; ia masuk sekolah biara dekat Exeter dua tahun kemudian. Pada usia empatbelas tahun, ia masuk biara di Nursling dalam wilayah Keuskupan Winchester. St. Bonifasius seorang yang giat belajar, murid abas biara yang berpengetahuan luas, Winbert. Kelak, Bonifasius menjadi pimpinan sekolah tersebut.</strong></span></div>
<div><span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;color:#000000;font-size:small;"><strong>Pada waktu itu, sebagian besar penduduk Eropa utara dan tengah masih belum mendengar tentang Kabar Gembira. St. Bonifasius memutuskan untuk menjadi seorang misionaris bagi mereka. Setelah satu perjuangan singkat, ia mohon persetujuan resmi dari Paus St. Gregorius II. Bapa Suci menugaskannya untuk mewartakan Injil kepada orang-orang Jerman. (Juga pada waktu itu St. Bonifasius mengubah namanya dari Winfrid menjadi Bonifasius). St. Bonifasius menjelajah Jerman melalui pegunungan Alpen hingga ke Bavaria dan kemudian ke Hesse dan Thuringia. Pada tahun 722, paus mentahbiskan St. Bonifasius sebagai uskup dengan wewenang meliputi seluruh Jerman. Ia tahu bahwa tantangannya yang terbesar adalah melenyapkan takhayul kafir yang menghambat diterimanya Injil dan bertobatnya penduduk. Dikenal sebagai “Rasul Jerman”, St. Bonifasius terus mewartakan Injil hingga ia wafat sebagai martir pada tahun 754. Marilah kita memulai cerita kita tentang Pohon Natal.</strong></span></div>
<div><span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;color:#000000;font-size:small;"><strong>Dengan rombongan pengikutnya yang setia, St. Bonifasius sedang melintasi hutan dengan menyusuri suatu jalan setapak Romawi kuno pada suatu Malam Natal. Salju menyelimuti permukaan tanah dan menghapus jejak-jejak kaki mereka. Mereka dapat melihat napas mereka dalam udara yang dingin menggigit. Meskipun beberapa di antara mereka mengusulkan agar mereka segera berkemah malam itu, St. Bonifasius mendorong mereka untuk terus maju dengan berkata, “Ayo, saudara-saudara, majulah sedikit lagi. Sinar rembulan menerangi kita sekarang ini dan jalan setapak enak dilalui. Aku tahu bahwa kalian capai; dan hatiku sendiri pun rindu akan kampung halaman di Inggris, di mana orang-orang yang aku kasihi sedang merayakan Malam Natal. Oh, andai saja aku dapat melarikan diri dari lautan Jerman yang liar dan berbadai ganas ini ke dalam pelukan tanah airku yang aman dan damai! Tetapi, kita punya tugas yang harus kita lakukan sebelum kita berpesta malam ini. Sebab sekarang inilah Malam Natal, dan orang-orang kafir di hutan ini sedang berkumpul dekat pohon Oak Geismar untuk memuja dewa mereka, Thor; hal-hal serta perbuatan-perbuatan aneh akan terjadi di sana, yang menjadikan jiwa mereka hitam. Tetapi, kita diutus untuk menerangi kegelapan mereka; kita akan mengajarkan kepada saudara-saudara kita itu untuk merayakan Natal bersama kita karena mereka belum mengenalnya. Ayo, maju terus, dalam nama Tuhan!”</strong></span></div>
<div><span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;color:#000000;font-size:small;"><strong>Mereka pun terus melangkah maju dengan dikobarkan kata-kata semangat St. Bonifasius. Sejenak kemudian, jalan mengarah ke daerah terbuka. Mereka melihat rumah-rumah, namun tampak gelap dan kosong. Tak seorang pun kelihatan. Hanya suara gonggongan anjing dan ringkikan kuda sesekali memecah keheningan. Mereka berjalan terus dan tiba di suatu tanah lapang di tengah hutan, dan di sana tampaklah pohon Oak Kilat Geismar yang keramat. “Di sini,” St. Bonifasius berseru sembari mengacungkan tongkat uskup berlambang salib di atasnya, “di sinilah pohon oak Kilat; dan di sinilah salib Kistus akan mematahkan palu sang dewa kafir Thor.”</strong></span></div>
<div><span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;color:#000000;font-size:small;"><strong>Di depan pohon oak itu ada api unggun yang sangat besar. Percikan-percikan apinya menari-nari di udara. Warga desa mengelilingi api unggun menghadap ke pohon keramat. St. Bonifasius menyela pertemuan mereka, “Salam, wahai putera-putera hutan! Seorang asing mohon kehangatan api unggunmu di malam yang dingin.” Sementara St. Bonifasius dan para pengikutnya mendekati api unggun, mata orang-orang desa menatap orang-orang asing ini. St. Bonifasius melanjutkan, “Aku saudaramu, saudara bangsa German, berasal dari Wessex, di seberang laut. Aku datang untuk menyampaikan salam dari negeriku, dan menyampaikan pesan dari Bapa-Semua, yang aku layani.”</strong></span></div>
<div><span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;color:#000000;font-size:small;"><strong>Hunrad, pendeta tua dewa Thor, menyambut St. Bonifasius beserta para pengikutnya. Hunrad kemudian berkata kepada mereka, “Berdirilah di sini, saudara-saudara, dan lihatlah apa yang membuat dewa-dewa mengumpulkan kita di sini! Malam ini adalah malam kematian dewa matahari, Baldur yang Menawan, yang dikasihi para dewa dan manusia. Malam ini adalah malam kegelapan dan kekuasaan musim dingin, malam kurban dan kengerian besar. Malam ini Thor yang agung, dewa kilat dan perang, kepada siapa pohon oak ini dikeramatkan, sedang berduka karena kematian Baldur, dan ia marah kepada orang-orang ini sebab mereka telah melalaikan pemujaan kepadanya. Telah lama berlalu sejak sesaji dipersembahkan di atas altarnya, telah lama sejak akar-akar pohonnya yang keramat disiram dengan darah. Sebab itu daun-daunnya layu sebelum waktunya dan dahan-dahannya meranggas hingga hampir mati. Sebab itu, bangsa-bangsa Slav dan Saxon telah mengalahkan kita dalam pertempuran. Sebab itu, panenan telah gagal, dan gerombolan serigala memporak-porandakan kawanan ternak, kekuatan telah menjauhi busur panah, gagang-gagang tombak menjadi patah, dan babi hutan membinasakan pemburu. Sebab itu, wabah telah menyebar di rumah-rumah tinggal kalian, dan jumlah mereka yang tewas jauh lebih banyak daripada mereka yang hidup di seluruh dusun-dusunmu. Jawablah aku, hai kalian, tidakkah apa yang kukatakan ini benar?” Orang banyak menggumamkan persetujuan mereka dan mereka mulai memanjatkan puji-pujian kepada Thor.</strong></span></div>
<div><span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;color:#000000;font-size:small;"><strong>Ketika suara-suara itu telah reda, Hunrad mengumumkan, “Tak satu pun dari hal-hal ini yang menyenangkan dewa. Semakin berharga persembahan yang akan menghapuskan dosa-dosa kalian, semakin berharga embun merah yang akan memberi hidup baru bagi pohon darah yang keramat ini. Thor menghendaki persembahan kalian yang paling berharga dan mulia.” </strong></span></div>
<div><span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;color:#000000;font-size:small;"><strong>Dengan itu, Hunrad menghampiri anak-anak, yang dikelompokkan tersendiri di sekeliling api unggun. Ia memilih seorang anak laki-laki yang paling elok, Asulf, putera Duke Alvold dan isterinya, Thekla, lalu memaklumkan bahwa anak itu akan dikurbankan untuk pergi ke Valhalla guna menyampaikan pesan rakyat kepada Thor. Orang tua Asulf terguncang hebat. Tetapi, tak seorang pun berani berbicara.</strong></span></div>
<div><span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;color:#000000;font-size:small;"><strong>Hunrad menggiring anak itu ke sebuah altar batu yang besar antara pohon oak dan api unggun. Ia mengenakan penutup mata pada anak itu dan menyuruhnya berlutut dan meletakkan kepalanya di atas altar batu. Orang-orang bergerak mendekat, dan St. Bonifasius menempatkan dirinya dekat sang pendeta. Hunrad kemudian mengangkat tinggi-tinggi palu dewa Thor keramat miliknya yang terbuat dari batu hitam, siap meremukkan batok kepala Asulf yang kecil dengannya. Sementara palu dihujamkan, St. Bonifasius menangkis palu itu dengan tongkat uskupnya sehingga palu terlepas dari tangan Hunrad dan patah menjadi dua saat menghantam altar batu. Suara decak kagum dan sukacita membahana di udara. Thekla lari menjemput puteranya yang telah diselamatkan dari kurban berdarah itu lalu memeluknya erat-erat. </strong></span></div>
<div><span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;color:#000000;font-size:small;"><strong>St. Bonifasius, dengan wajahnya bersinar, berbicara kepada orang banyak, “Dengarlah, wahai putera-putera hutan! Tidak akan ada darah mengalir malam ini. Sebab, malam ini adalah malam kelahiran Kristus, Putera Bapa Semua, Juruselamat umat manusia. Ia lebih elok dari Baldur yang Menawan, lebih agung dari Odin yang Bijaksana, lebih berbelas kasihan dari Freya yang Baik. Sebab Ia datang, kurban disudahi. Thor, si Gelap, yang kepadanya kalian berseru dengan sia-sia, sudah mati. Jauh dalam bayang-bayang Niffelheim ia telah hilang untuk selama-lamanya. Dan sekarang, pada malam Kristus ini, kalian akan memulai hidup baru. Pohon darah ini tidak akan menghantui tanah kalian lagi. Dalam nama Tuhan, aku akan memusnahkannya.” St. Bonifasius kemudian mengeluarkan kapaknya yang lebar dan mulai menebas pohon. Tiba-tiba terasa suatu hembusan angin yang dahsyat dan pohon itu tumbang dengan akar-akarnya tercabut dari tanah dan terbelah menjadi empat bagian.</strong></span></div>
<div><span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;color:#000000;font-size:small;"><strong>Di balik pohon oak raksasa itu, berdirilah sebatang pohon cemara muda, bagaikan puncak menara gereja yang menunjuk ke surga. St. Bonifasius kembali berbicara kepada warga desa, “Pohon kecil ini, pohon muda hutan, akan menjadi pohon kudus kalian mulai malam ini. Pohon ini adalah pohon damai, sebab rumah-rumah kalian dibangun dari kayu cemara. Pohon ini adalah lambang kehidupan abadi, sebab daun-daunnya senantiasa hijau. Lihatlah, bagaimana daun-daun itu menunjuk ke langit, ke surga. Biarlah pohon ini dinamakan pohon kanak-kanak Yesus; berkumpullah di sekelilingnya, bukan di tengah hutan yang liar, melainkan dalam rumah kalian sendiri; di sana ia akan dibanjiri, bukan oleh persembahan darah yang tercurah, melainkan persembahan-persembahan cinta dan kasih.” </strong></span></div>
<div><span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;color:#000000;font-size:small;"><strong>Maka, mereka mengambil pohon cemara itu dan membawanya ke desa. Duke Alvold menempatkan pohon di tengah-tengah rumahnya yang besar. Mereka memasang lilin-lilin di dahan-dahannya, dan pohon itu tampak bagaikan dipenuhi bintang-bintang. Lalu, St. Bonifasius, dengan Hundrad duduk di bawah kakinya, menceritakan kisah Betlehem, Bayi Yesus di palungan, para gembala, dan para malaikat. Semuanya mendengarkan dengan takjub. Si kecil Asulf, duduk di pangkuan ibunya, berkata, “Mama, dengarlah, aku mendengar para malaikat itu bernyanyi dari balik pohon.” Sebagian orang percaya apa yang dikatakannya benar; sebagian lainnya mengatakan bahwa itulah suara nyanyian yang dimadahkan oleh para pengikut St. Bonifasius, “Kemuliaan bagi Allah di tempat mahatinggi, dan damai di bumi; rahmat dan berkat mengalir dari surga kepada manusia mulai dari sekarang sampai selama-lamanya.”</strong></span></div>
<div><span style="font-family:Arial,Helvetica,sans-serif;color:#000000;font-size:small;"><strong>Sementara kita berkumpul di sekeliling Pohon Natal kita, kiranya kita mengucap syukur atas karunia iman, senantiasa menyimpan kisah kelahiran Sang Juruselamat dalam hati kita, dan menyimak nyanyian pujian para malailat. Kepada segenap pembaca, saya mengucapkan Selamat Hari Raya Natal yang penuh berkat dan sukacita!</strong></span></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fransiskusharianja.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fransiskusharianja.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fransiskusharianja.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fransiskusharianja.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fransiskusharianja.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fransiskusharianja.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fransiskusharianja.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fransiskusharianja.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fransiskusharianja.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fransiskusharianja.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fransiskusharianja.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fransiskusharianja.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fransiskusharianja.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fransiskusharianja.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fransiskusharianja.wordpress.com&amp;blog=12214982&amp;post=21&amp;subd=fransiskusharianja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/asal-mula-pohon-natal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a2f0735cff9cfe460f32c463464a590c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fransiskusharianja</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.indocell.net/yesaya/1x1.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indocell.net/yesaya/1x1.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://www.indocell.net/yesaya/192d187d0.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>fungsi pohon Aren dalam Sejarah kota Bogor</title>
		<link>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/19/</link>
		<comments>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/19/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 08:05:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fransiskusharianja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/19/</guid>
		<description><![CDATA[Fungsi Pohon Aren dalam Sejarah Kota Bogor Penulis : Nia November 9, 2009 at 11:36 Dalam sejarah masyarakat Sunda, pohon aren tidak saja memiliki fungsi sosial, ekonomi ekologi dan budaya, tetapi juga memiliki nilai historis dalam pembentukan sebuah nama daerah di tatar Sunda, serta mempengaruhi perkembangan seni dan mitologi kasundaan. Hal ini menunjukkan bahwa para [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fransiskusharianja.wordpress.com&amp;blog=12214982&amp;post=19&amp;subd=fransiskusharianja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<h1><a title="Fungsi Pohon Aren dalam Sejarah Kota Bogor" rel="bookmark" href="http://niahidayati.net/fungsi-pohon-aren-dalam-sejarah-kota-bogor.html"> Fungsi Pohon Aren dalam Sejarah Kota Bogor </a></h1>
<div>
<ul>
<li>Penulis : <a href="http://niahidayati.net/">Nia</a></li>
<li>November 9, 2009 at 11:36</li>
</ul>
</div>
</div>
<div><!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --><br />
<!-- End: http://adsensecamp.com/ --></div>
<p><img title="pohon aren 2" src="http://niahidayati.net/wp-content/uploads/2009/11/pohon-aren-2.jpeg" alt="pohon aren 2" width="104" height="90" />Dalam sejarah masyarakat Sunda, pohon aren tidak saja memiliki fungsi sosial, ekonomi ekologi dan budaya, tetapi juga memiliki nilai historis dalam pembentukan sebuah nama daerah di tatar Sunda, serta mempengaruhi perkembangan seni dan mitologi kasundaan. Hal ini menunjukkan bahwa para leluhur Urang Sunda sudah sangat memahami filosofi pohon aren sebagai tanaman multiguna ini hingga mengaitkannya dengan kebermaknaan hidup masyarakat di zamannya. Pemahaman ini melahirkan kepercayaan dan kepercayaan ini pun melahirkan sejumlah tradisi dalam bentuk seni, kebudayaan, serta pendekatan sejarah dan mitologi yang berpengaruh terhadap aspek-aspek kehidupan masyarakat.<br />
Secara mitologis, keberadaan pohon aren erat kaitannya dengan kepercayaan terhadap Dewa-Dewi dan yang kemudian dilestarikan dalam sejumlah tradisi adat leluhur yanng masih dipegang teguh di beberapa daerah di Tatar Sunda. Dahulu kala dikisahkan, <strong>Sanghyang Guru</strong> mengutus <strong>Sanghyang Ismaya </strong>ke bumi untuk memeriksa kondisi pertumbuhan padi di lahan-lahan huma (ladang) penduduk. Mengingat saat itu hari sangat panas, Sanghyang Ismaya berteduh dan beristirahat di bawah pohon aren. Ketika istirahat, <strong>Sanghyang Ismaya</strong> melihat burung pipit putih yang dianggap sebagai hama padi, hinggap di tandan karangan bunga aren. Sanghyang Ismaya merasa khawatir pipit putih ini akan merusak padi. Maka, pipit tersebut diusir dengan cara dilempari batu. Namun, lemparan <strong>Sanghyang Ismaya</strong> tidak pernah mengenai pipit tersebut. Karena itu, dengan sangat marah <strong>Sanghyang Ismaya</strong> mengguncang-guncangkan tandan karangan bunga kawung dengan sangat kerasnya untuk mengusir pipit itu. Namun, burung tersebut tetap saja tidak mau terbang. Akhirnya, <strong>Sanghyang Ismaya </strong>mencoba membunuh pipit putih dengan menggunakan goloknya. Hunusan golok <strong>Sanghyang Ismaya </strong>tidak mengenai pipit, tetapi malah memangkas tandan karangan bunga aren sehingga pada ujung tandan karangan bunga aren tersebut keluar air yang rasanya manis. Karena ia sedang dahaga, air itu kemudian diminumnya. Sejak saat itulah, menurut cerita, tandan bunga aren dapat disadap untuk diambil niranya dan digodok untuk dijadikan gula kawung (Prawira Suganda: 1964).<br />
Cerita ini berperan besar dalam membentuk pandangan masyarakat masa itu untuk memanfaatkan pohon aren sebagai sumber penghidupan, alat kehidupan dan menjaga kelestariannya meskipun saat ini jumlahnya kian menyusut karena belum ada pembudidayaan yang signifikan. Di beberapa daerah, mitos ini kemudian menjadi dasar untuk memegang teguh adat leluhur yang berkaitan dengan fungsi pohon aren. Misalnya, penggunaan pelepah aren dalam upacara adat yang berhubungan dengan panen padi, nyalin, ngalaksa dan sawen. Terlepas dari adanya fungsi secara logis dan ilmiah, kepercayaan yang berkaitan dengan mitologi dan budaya tidak bisa dikesampingkan dalam pengertian masyarakat, khususnya di pedesaan.<br />
Hal-hal seperti ini tidak selalu negatif apabila dikaji berdasarkan kesederhanaan berpikir dan ketajaman prediksi nenek moyang kita zaman dulu terhadap keseimbangan dan kesinambungan hidup manusia dengan alam. Kenyataannya, pemikiran sederhana itu bisa berkembang menjadi sebuah pandangan yang bijaksana dalam menentukan banyak hal dalam menjalani kehidupan. Misalnya, dalam menentukan nama tempat yang kelak diharapkan membawa kebaikan dalam kehidupan generasi berikutnya.<br />
Secara historis, pohon aren juga berperan dalam pembentukan nama Bogor Peran pohon aren ini berawal dari pendekatan filosofi atas makna kehidupan yang terkandung dalam kata tangkal kawung (pohon aren). Dalam filosofi Sunda, kata “bogor” berarti “tunggul kawung” (sisa penebangan pohon aren atau pokok enau) yang merupakan simbol kekuatan yang tak terduga. Arti kata bogor sebagai tunggul kawung dan maknanya sebagai kekuatan yang hebat ini terdapat pada sebuah pantun bogor, yakni <strong>Pantun Pa Cilong, “Ngadegna Dayeuh Pajajaran” </strong>yang berbunyi sebagai berikut :<br />
<em>Tah di dinya, ku andika adegkeun eta dayeuh laju ngaranan Bogor sabab bogor teh hartina tunggul kawung<br />
Ari tunggul kawung emang ge euweuh hartina euweuh soteh ceuk nu teu ngarti<br />
Ari sababna, ngaran mudu Bogor sabab bogor mah dijieun suluh teu daek hurung teu melepes tapi ngelun haseupna teu mahi dipake muput<br />
Tapi amun dijieun tetengger sanggup nungkulan windu kuat milangan mangsa<br />
Amun kadupak matak borok nu ngadupakna moal geuwat cageur  tah inyana<br />
Amun katajong?matak bohak nu najongna moal geuwat waras tah cokorna<br />
Tapi, amun dijieun kekesed?sing nyaraho isukan jaga pageto bakal harudang pating kodongkang nu ngawarah si calutak<br />
Tah kitu!ngaranan ku andika eta dayeuhDayeuh Bogor!<br />
Di tempat itu, dirikanlah olehmu sebuah kota lalu beri nama Bogor sebab bogor itu artinya pokok enau/aren<br />
Pokok enau itu memang tak ada artinya, terutama bagi mereka yang tidak paham<br />
Sebabnya harus bernama Bogor?sebab bogor itu bila dibuat kayu bakar tak mau menyala tapi tidak padam, terus membara asapnya tak cukup untuk “muput” (semacam membuat api unggun besar untuk membakar sesuatu dalam jangka waktu yang cukup lama)<br />
Tapi kalau dijadikan penyangga rumah mampu melampaui waktu, sanggup melintasi zaman (kuat dan tahan lama)<br />
Kalau tersenggol bisa membuat koreng bagi yang menyenggolnya, koreng yang lama sembuhnya<br />
Kalau tertendang/tersandung bisa melukai yang mendangnya, kakinya akan lama sembuhnya<br />
Tapi, kalau dibuat kesed? Semuanya harus tahu besok atau lusa bakal bangkit berkeliaran memberi pelajaran kepada yang tidak tahu sopan santun<br />
Begitulah, berilah nama olehmu kota tersebut Kota Bogor!</em></p>
<p>Pantun di atas menjadi dasar yang paling kuat tentang asal-usul nama kota Bogor. Dalam lakon itu dikemukakan bahwa kata bogor berarti tunggul kawung yang dianggap memiliki makna kekuatan besar yang tak terduga. Memberi banyak manfaat bagi masyarakat, khususnya untuk dimanfaatkan sebagai alat dan bahan pembuat rumah. Dalam pantun itu juga dijelaskan bahwa tunggul kawung bisa menimbulkan penyakit yang lama sembuhnya, jika dijadikan kesed, suatu saat akan bangkit memberikan balasan atas perbuatan tidak sopan. Ini bisa diartikan bahwa kekuatan yang tak terduga itu ialah kekuatan untuk memberikan pelajaran berharga kepada siapa saja yang menyepelekan keadaan orang lain agar lebih bisa memahami, mengamalkan tata krama atau etika dalam kehidupan bermasyarakat. Kenyataan yang banyak ditemukan dalam kehidupan masyarakat pedesaan bahwa harupat (semacam lidi yang terdapat pada jalinan ijuk) pada pohon aren bisa menyebabkan luka, borok dan koreng yang sulit dan lama sembuh jika tertusuk harupat itu. Jadi, walaupun sudah menjadi tunggul, pohon aren masih memiliki kekuatan yang cukup besar.<br />
Penerapan dan pemahaman filosofis tersebut serupa dengan nama tempat Tunggilis yang terletak di tepi jalan antara Cileungsi dan Jonggol. Kata tunggilis berarti tunggul atau pokok pinang yang secara kiasan diartikan menyendiri atau hidup sebatang kara karena pada zaman dahulu daerah sepanjang Jonggol merupakan hutan lebat, sepi dari keramaian dan jauh dari pemukiman penduduk.<br />
Di Jawa Barat sendiri banyak tempat bernama Bogor, seperti yang bisa ditemukan di Sumedang dan Garut. Demikian pula di Jawa Tengah, sebagaimana dicatat <strong>Prof. Veth </strong>dalam buku <strong>Java</strong>. Bogor selain berarti tunggul kawung, juga berarti daging pohon aren yang biasa dijadikan sagu (di daerah Bekasi). Dalam bahasa Jawa, bogor berati pohon enau dan kata kerja dibogor berarti disadap. Dalam bahasa Jawa Kuno, pabogoran berarti kebun enau. Dalam bahasa Sunda umum, menurut <strong>Coolsma</strong>, Bogor berarti <em>“droogetapte kawoeng”</em> (pohon enau yang telah habis disadap) atau <em>bladerlooze en taklooze boom</em> (pohon yang tak berdaun dan tak bercabang). Jadi, sama dengan pengertian kata pugur atau pogor. Hal ini menunjukkan bahwa meski sudah tidak menghasilkan nira, pohon aren masih memiliki manfaat lain bagi kehidupan masyarakat dan tetap memiliki kekuatan.<br />
Lahirnya kota Bogor sendiri dipercaya berasal dari dokumen dan naskah tertua “Wangsakerta” yang mengandung nilai sejarah lebih tinggi di atas naskah-naskah tradisional Nama Bogor dapat ditemui pada sebuah dokumen tertanggal 7 April 1752. Dalam dokumen tersebut tercantum nama <strong>Ngabei Raksacandra</strong> sebagai <em>hoofd van de negorij </em>Bogor (kepala kampung Bogor). Dalam tahun tersebut, ibukota Kabupaten Bogor masih berkedudukan di Tanah Baru. Dua tahun kemudian, <strong>Bupati Demang Wiranata </strong>mengajukan permohonan kepada Gubernur <strong>Jacob Mossel </strong>agar diizinkan mendirikan rumah tempat tinggal di Sukahati di dekat Buitenzorg. Kelak karena di depan rumah Bupati Bogor tersebut terdapat sebuah kolam besar (empang), maka nama Sukahati diganti menjadi Empang.</p>
<p>Keterlibatan pohon aren dalam sejarah dan kehidupan masyarakat menunjukkan bahwa memiliki pengaruh yang kental dalam kehidupan masyarakat Sunda. Tidak sekedar memiliki fungsi fisik yang menghidupi kehidupan masyarakat, tetapi juga menjadi sebuah filosofi kehidupan masyarakat yang menandakan kedalaman makna harmoni antara manusia dengan alam dan penciptanya. Sebagai sebuah simbol yang melatarbelakangi sejarah pembentukan sebuah nama tempat, pohon aren menunjukkan kesejatiannya sebagai penopang kehidupan masyarakt, meskipun sudah menjadi tunggul.Ini juga menunjukkan bahwa nenek moyang kita dulu begitu bijak mengkaji, memanfaatkan dan memperlakukan alam hingga melahirkan filosofi dan nilai sejarah yang luhur. <em>(Nia Hidayati)<br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fransiskusharianja.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fransiskusharianja.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fransiskusharianja.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fransiskusharianja.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fransiskusharianja.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fransiskusharianja.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fransiskusharianja.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fransiskusharianja.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fransiskusharianja.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fransiskusharianja.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fransiskusharianja.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fransiskusharianja.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fransiskusharianja.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fransiskusharianja.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fransiskusharianja.wordpress.com&amp;blog=12214982&amp;post=19&amp;subd=fransiskusharianja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/19/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a2f0735cff9cfe460f32c463464a590c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fransiskusharianja</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://niahidayati.net/wp-content/uploads/2009/11/pohon-aren-2.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">pohon aren 2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/17/</link>
		<comments>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/17/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 08:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fransiskusharianja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/17/</guid>
		<description><![CDATA[BATAK Adat Istiadat Budaya Batak Bonapasogit « Legenda Tuak Legenda Lau Kawar » Batu Gantung-Parapat Parapat atau Prapat adalah sebuah kota kecil yang berada di wilayah Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Indonesia. Kota kecil yang terletak di tepi Danau Toba ini merupakan tujuan wisata yang ramai dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Kota ini memiliki keindahan alam yang sangat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fransiskusharianja.wordpress.com&amp;blog=12214982&amp;post=17&amp;subd=fransiskusharianja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="header">
<h1 id="blog-title"><a title="BATAK" href="http://rapolo.wordpress.com/">BATAK</a></h1>
<div id="blog-description">Adat Istiadat Budaya Batak Bonapasogit</div>
</div>
<p><!--  #header --></p>
<div id="nav-above">
<div>« <a rel="prev" href="http://rapolo.wordpress.com/2008/05/15/legenda-tuak/">Legenda Tuak</a></div>
<div><a rel="next" href="http://rapolo.wordpress.com/2008/05/19/legenda-lau-kawar/">Legenda Lau Kawar</a> »</div>
</div>
<h2>Batu Gantung-Parapat</h2>
<div>
<div>
<p>Parapat atau Prapat adalah sebuah kota kecil yang berada di wilayah Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Indonesia. Kota kecil yang terletak di tepi Danau Toba ini merupakan tujuan wisata yang ramai dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Kota ini memiliki keindahan alam yang sangat mempesona dan didukung oleh akses jalan transportasi yang bagus, sehingga mudah untuk dijangkau.</p>
<p>Kota ini sering digunakan sebagai tempat singgah oleh para wisatawan yang melintas di Jalan Raya Lintas Sumatera (Jalinsum) bagian barat yang menghubungkan Kota <a title="Medan" href="http://rapolo.wordpress.com/category/kota/sejarah-kota-medan/" target="_blank">Medan</a> dengan Kota Padang. Selain sebagai objek wisata yang eksotis, Parapat juga merupakan sebuah kota yang melegenda di kalangan masyarakat di Sumatera Utara. Dahulu, kota kecil ini merupakan sebuah pekan yang terletak di tepi <a title="Danau Toba" href="http://rapolo.wordpress.com/category/legenda/danau-toba-legenda/" target="_blank">Danau Toba</a>. Setelah terjadi suatu peristiwa yang sangat mengerikan, tempat itu oleh masyarakat diberi nama Parapat atau Prapat.</p>
<p>Dalam peristiwa itu, muncul sebuah batu yang menyerupai manusia yang berada di tepi Danau Toba. Menurut masyarakat setempat, batu itu merupakan penjelmaan seorang gadis cantik bernama Seruni. Peristiwa apa sebenarnya yang pernah terjadi di pinggiran kota kecil itu? Kenapa gadis cantik itu menjelma menjadi batu? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Batu Gantung berikut ini!.</p>
<p>Alkisah,di sebuah desa terpencil di pinggiran Danau Toba Sumatera Utara, hiduplah sepasang suami-istri dengan seorang anak perempuannya yang cantik jelita bernama Seruni. Selain rupawan, Seruni juga sangat rajin membantu orang tuanya bekerja di ladang. Setiap hari keluarga kecil itu mengerjakan ladang mereka yang berada di tepi Danau Toba, dan hasilnya digunakan untuk mencukupikebutuhan sehari-hari.</p>
<p>Pada suatu hari, Seruni pergi ke ladang seorang diri, karena kedua orang tuanya ada keperluan di desa tetangga. Seruni hanya ditemani oleh seekor anjing kesayangannya bernama si Toki. Sesampainya di ladang, gadis itu tidak bekerja, tetapi ia hanya duduk merenung sambil memandangi indahnya alam Danau Toba.</p>
<p>Sepertinya ia sedang menghadapi masalah yang sulit dipecahkannya. Sementara anjingnya, si Toki, ikut duduk di sebelahnya sambil menatap wajah Seruni seakan mengetahui apa yang dipikirkan majikannya itu. Sekali-sekali anjing itu menggonggong untuk mengalihkan perhatian sang majikan, namun sang majikan tetap saja usik dengan lamunannya.</p>
<p>Memang beberapa hari terakhir wajah Seruni selalu tampak murung. Ia sangat sedih, karena akan dinikahkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pemuda yang masih saudara sepupunya. Padahal ia telah menjalin asmara dengan seorang pemuda pilihannya dan telah berjanji akan membina rumah tangga yang bahagia. Ia sangat bingung. Di satu sisi ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, dan di sisi lain ia tidak sanggup jika harus berpisah dengan pemuda pujaan hatinya. Oleh karena merasa tidak sanggup memikul beban berat itu, ia pun mulai putus asa.</p>
<p>“Ya, Tuhan! Hamba sudah tidak sanggup hidup dengan beban ini,” keluh Seruni. Beberapa saat kemudian, Seruni beranjak dari tempat duduknya. Dengan berderai air mata, ia berjalan perlahan ke arah Danau Toba. Rupanya gadis itu ingin mengakhiri hidupnya dengan melompat ke Danau Toba yang bertebing curam itu.</p>
<p>Sementara si Toki, mengikuti majikannya dari belakang sambil menggonggong. Dengan pikiran yang terus berkecamuk, Seruni berjalan ke arah tebing Danau Toba tanpa memerhatikan jalan yang dilaluinya. Tanpa diduga, tiba-tiba ia terperosokke dalam lubang batu yang besar hingga masuk jauh ke dasar lubang. Batu cadas yang hitam itu membuat suasana di dalam lubang itu semakin gelap. Gadis cantik itu sangat ketakutan. Di dasar lubang yang gelap, ia merasakan dinding-dinding batu cadas itu bergerak merapat hendak menghimpitnya.</p>
<p>“Tolooooggg……! Tolooooggg……! Toloong aku, Toki!” terdengar suara Seruni meminta tolong kepada anjing kesayangannya.</p>
<p>Si Toki mengerti jika majikannya membutuhkan pertolongannya, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali hanya menggonggong di mulut lubang. Beberapa kali Seruni berteriak meminta tolong, namun si Toki benar-benar tidak mampu menolongnnya. Akhirnya gadis itu semakin putus asa.</p>
<p>“Ah, lebih baik aku mati saja daripada lama hidup menderita,” pasrah Seruni.</p>
<p>Dinding-dinding batu cadas itu bergerak semakin merapat. “Parapat! Parapat batu… Parapat!” seru Seruni menyuruh batu itu menghimpit tubuhnya..</p>
<p>Sementara si Toki yang mengetahui majikannya terancam bahaya terus menggonggong di mulut lubang. Merasa tidak mampu menolong sang majikan, ia pun segera berlari pulang ke rumah untuk meminta bantuan. Sesampai di rumah majikannya, si Toki segera menghampiri orang tua Seruni yang kebetulan baru datang dari desa tetangga berjalan menuju rumahnya.</p>
<p>“Auggg…! auggg…! auggg…!” si Toki menggonggong sambil mencakar-cakar tanah untuk memberitahukan kepada kedua orang tua itu bahwa Seruni dalam keadaan bahaya.</p>
<p>“Toki…, mana Seruni? Apa yang terjadi dengannya?” tanya ayah Seruni kepada anjing itu.</p>
<p>“Auggg…! auggg…! auggg…!” si Toki terus menggonggong berlari mondar-mandir mengajak mereka ke suatu tempat.</p>
<p>“Pak, sepertinya Seruni dalam keadaan bahaya,” sahut ibu Seruni.</p>
<p>“Ibu benar. Si Toki mengajak kita untuk mengikutinya,” kata ayah Seruni.</p>
<p>“Tapi hari sudah gelap, Pak. Bagaimana kita ke sana?” kata ibu Seruni.</p>
<p>“Ibu siapkan obor! Aku akan mencari bantuan ke tetangga,” seru sang ayah. Tak lama kemudian, seluruh tetangga telah berkumpul di halaman rumah ayah Seruni sambil membawa obor. Setelah itu mereka mengikuti si Toki ke tempat kejadian. Sesampainya mereka di ladang, si Toki langsung menuju ke arah mulut lubang itu. Kemudian ia menggonggong sambil mengulur-ulurkan mulutnya ke dalam lubang untuk memberitahukan kepada warga bahwa Seruni berada di dasar lubang itu.</p>
<p>Kedua orang tua Seruni segera mendekati mulut lubang. Alangkah terkejutnya ketika mereka melihat ada lubang batu yang cukup besar di pinggir ladang mereka. Di dalam lubang itu terdengar sayup-sayup suara seorang wanita: “Parapat… ! Parapat batu… Parapat!”</p>
<p>“Pak, dengar suara itu! Itukan suara anak kita! seru ibu Seruni panik.</p>
<p>“Benar, bu! Itu suara Seruni!” jawab sang ayah ikut panik.</p>
<p>“Tapi, kenapa dia berteriak: parapat, parapatlah batu?” tanya sang ibu.</p>
<p>“Entahlah, bu! Sepertinya ada yang tidak beres di dalam sana,” jawab sang ayah cemas.</p>
<p>Pak Tani itu berusaha menerangi lubang itu dengan obornya, namun dasar lubang itu sangat dalam sehingga tidak dapat ditembus oleh cahaya obor.</p>
<p>“Seruniii…! Seruniii… !” teriak ayah Seruni.</p>
<p>“Seruni…anakku! Ini ibu dan ayahmu datang untuk menolongmu!” sang ibu ikut berteriak.</p>
<p>Beberapa kali mereka berteriak, namun tidak mendapat jawaban dari Seruni. Hanya suara Seruni terdengar sayup-sayup yang menyuruh batu itu merapat untuk menghimpitnya.</p>
<p>“Parapat… ! Parapatlah batu… ! Parapatlah!”</p>
<p>“Seruniiii… anakku!” sekali lagi ibu Seruni berteriak sambil menangis histeris.</p>
<p>Warga yang hadir di tempat itu berusaha untuk membantu. Salah seorang warga mengulurkan seutas tampar (tali) sampai ke dasar lubang, namun tampar itu tidak tersentuh sama sekali. Ayah Seruni semakin khawatir dengan keadaan anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyusul putrinya terjun ke dalam lubang batu.</p>
<p>“Bu, pegang obor ini!” perintah sang ayah.</p>
<p>“Ayah mau ke mana?” tanya sang ibu.</p>
<p>“Aku mau menyusul Seruni ke dalam lubang,” jawabnya tegas.</p>
<p>“Jangan ayah, sangat berbahaya!” cegah sang ibu.</p>
<p>“Benar pak, lubang itu sangat dalam dan gelap,” sahut salah seorang warga.</p>
<p>Akhirnya ayah Seruni mengurungkan niatnya. Sesaat kemudian, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Bumi bergoyang dengan dahsyatnya seakan hendak kiamat. Lubang batu itu tiba-tiba menutup sendiri. Tebing-tebing di pinggir Danau Toba pun berguguran. Ayah dan ibu Seruni beserta seluruh warga berlari ke sana ke mari untuk menyelamatkan diri. Mereka meninggalkan mulut lubang batu, sehingga Seruni yang malang itu tidak dapat diselamatkan dari himpitan batu cadas.</p>
<p>Beberapa saat setelah gempa itu berhenti, tiba-tiba muncul sebuah batu besar yang menyerupai tubuh seorang gadis dan seolah-olah menggantung pada dinding tebing di tepi Danau Toba. Masyarakat setempat mempercayai bahwa batu itu merupakan penjelmaan Seruni yang terhimpit batu cadas di dalam lubang. Oleh mereka batu itu kemudian diberi nama “Batu Gantung”.</p>
<p>Beberapa hari kemudian, tersiarlah berita tentang peristiwa yang menimpa gadis itu. Para warga berbondong-bondong ke tempat kejadian untuk melihat “Batu Gantung” itu. Warga yang menyaksikan peristiwa itu menceritakan kepada warga lainnya bahwa sebelum lubang itu tertutup, terdengar suara: “Parapat… parapat batu… parapatlah!”Oleh karena kata “parapat” sering diucapkan orang dan banyak yang menceritakannya, maka Pekan yang berada di tepi Danau Toba itu kemudian diberi nama “Parapat”.</p>
<p>Parapat kini menjadi sebuah kota kecil salah satu tujuan wisata yang sangat menarik di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Demikian cerita tentang asal-usul nama kota prapat. Cerita di atas termasuk cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah akibat buruk dari sifat putus asa atau lemah semangat. Sifat ini tercermin pada sikap dan perilaku Seruni yang hendak mengakhiri hidupnya dengan melompat ke Danau Toba yang bertebing curam, namunia justru terperosok ke dalam lubang batu dan menghimpitnya hingga akhirnya meninggal dunia</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fransiskusharianja.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fransiskusharianja.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fransiskusharianja.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fransiskusharianja.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fransiskusharianja.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fransiskusharianja.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fransiskusharianja.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fransiskusharianja.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fransiskusharianja.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fransiskusharianja.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fransiskusharianja.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fransiskusharianja.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fransiskusharianja.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fransiskusharianja.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fransiskusharianja.wordpress.com&amp;blog=12214982&amp;post=17&amp;subd=fransiskusharianja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/17/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a2f0735cff9cfe460f32c463464a590c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fransiskusharianja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/14/</link>
		<comments>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/14/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 07:57:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fransiskusharianja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/14/</guid>
		<description><![CDATA[Asal Usul dan Cikal Bakal Kota Surabaya Oleh: Yousri Nur Raja Agam MH *) Yousri Nur RA MH PENELITI dan beberapa ahli sejarah, mengungkapkan, dulu Surabaya ini adalah muara sungai dan terbentuk oleh gugusan kepulauan. Muara Sungai Kali Brantas dengan anaknya Kali Surabaya masih di Wonokromo. Sedangkan Surabaya sekarang merupakan pulau-pulau kecil yang terjadi akibat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fransiskusharianja.wordpress.com&amp;blog=12214982&amp;post=14&amp;subd=fransiskusharianja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Asal Usul dan</strong></p>
<p><strong>Cikal Bakal </strong></p>
<p><strong>Kota Surabaya</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Oleh: Yousri Nur Raja Agam MH *)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Yousri Nur RA MH</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PENELITI</strong> dan beberapa ahli sejarah, mengungkapkan, dulu Surabaya ini adalah muara sungai dan terbentuk oleh gugusan kepulauan. Muara Sungai Kali Brantas dengan anaknya Kali Surabaya masih di Wonokromo. Sedangkan Surabaya sekarang merupakan pulau-pulau kecil yang terjadi akibat lumpur yang hanyut dari letusan Gunung Kelud. Namun, lama-kelamaan terus terjadi pendangkalan di muara sungai yang terletak di Selat Madura ini.</p>
<p>Akibat sedimen yang terus bertambah, endapan lumpur semakin meninggi, sehingga selat-selat yang terletak di antara gugus pulau-pulau kecil itu menyempit. Di antara pulau-pulau kecil itu banyak yang menyatu, sementara ada pula selat di antara pulau-pulau kecil itupun berubah menjadi anak sungai atau kali.</p>
<p>Kejadian yang unik itu ditopang pula dengan proses tektonik. Permukaan daratan Surabaya naik 5 sampai 8 centimeter per-abad. Sementara itu daratan atau garis pantai bertambah ke arah laut rata-rata 7,5 centimeter per-tahun.</p>
<p>Dalam catatan sejarah, Gunung Kelud rata-rata meletus setiap 15 tahun sekali. Memang, apabila Kelud meletus, dua wilayah yang menjadi sasaran utama, yaitu Blitar dan Kediri. Tetapi, karena Sungai kali Brantas mengalir dari arah Kediri sampai ke Surabaya, maka semburan gunung yang membawa lava, lahar dan lumpur itu hanyut sampai ke muara sungai. Selain membuat pendangkalan di badan sungai, endapan terbanyak justru di muaranya Selat Madura, yaitu Surabaya dan Sidoarjo.</p>
<p>Data yang berhasil dicatat dari Proyek Penanggulangan Bencana Alam Gunung Kelud, secara berturut-turut Gunung Kelud meletus tahun 1311, 1334, 1376, 1385, 1395, 1411, 1451, 1462, 1481, 1586, 1752, 1771, 1811, 1826, 1835, 1848, 1851, 1864, 1901, 1919, 1951, 1966, 1990 dan 2005.</p>
<p>Sebagai contoh, letusan tahun 1966 dan 1990, tidak kurang satu kali letusan memuntahkan lahar 28 juta meter kubik. Lahar yang dimuntahkan itu, selain menimbun kawasan di sekitar gunung, juga mengalir di lereng gunung terus ke sungai. Lahar yang berubah menjadi pasir dan lumpur itu mengalir melalui Sungai Kali Brantas hingga muara. Akibat yang terjadi, juga mendangkalkan permukaan sungai, mempersempit lebar sungai dan menambah endapan di muara sungai, laut di Selat Madura.</p>
<p>Begitulah asal-usul dan cikal-bakal kejadian daratan di muara Kali Surabaya, sehingga daerah yang semula bernama Junggaluh atau Ujunggaluh atau Hujunggaluh, kemudian bernama Surabaya. Tidaklah mengherankan, kalau sampai sekarang Surabaya berada di dataran rendah dan terletak pada ketinggian hanya 0 sampai 6 meter di atas permukaan laut. Jadi, kalau Surabaya banjir atau pasang naik mencapai bibir daratan, tidak perlu heran dan sebenarnya tidak perlu dirisaukan.</p>
<p>Dari gugus pulau-pulau kecil yang disebut pulo di muara sungai Kalimas yang berinduk ke sungai Kali Brantas itu, ada selat-selat yang dulu diberi nama kali. Jadi tidaklah mengherankan ada nama tempat di Surabaya ini yang disebut pulo dan kali. Di sini pola hidup dan kehidupan warga asli adalah memancing dan berburu. Rumah-rumah penduduk kampung asli Surabaya dulunya berada di atas tiang dan di atas permukaan air, sebagaimana umumnya permukiman pantai.</p>
<p>Seiring dengan perkembangan ruang dan waktu, pola kehidupan berubah. Kehidupan di dunia pantai yang berubah menjadi pelabuhan itulah yang mendorong terjadinya kegiatan kemaritiman. Dunia maritim ini saling tunjang dengan perdagangan dan industri. Inilah ciri khas Surabaya pada awalnya, yang kemudian berkembang ke arah pendidikan, budaya dan pariwisata seperti sekarang ini.</p>
<p>Sebagai wilayah berada di muara sungai yang berkembang menjadi pelabuhan, keberadaannya diakui oleh pemerintah penjajah Belanda di awal abad ke 16. Evolusi menjadi kota besar mulai terjadi setelah dilakukan pemetaan wilayah oleh Muller tahun 1746. Pemetaan wilayah Surabaya itu atas perintah Gubernur Jenderal Belanda wilayah Hindia Belanda yang mendarat 11 April 1746 di utara Surabaya.</p>
<p>Awalnya luas kota Surabaya yang secara otonom diserahkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat pembentukan kota 1 April 1906 di bawah pemerintahan walikota (<em>burgermeester</em>), sekitar 5.170 hektar atau 51,70 kilometer per-segi.</p>
<p>Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan tahun 1945, Pemerintahan Kota Surabaya dikukuhkan dengan Undang-undang No.22 tahun 1948 dengan luas wilayah 67,20 kilometer per-segi atau 6.720 hektar.</p>
<p>Kemudian terjadi perluasan kota dengan penambahan wilayah dari lima kecamatan dari Kabupaten Surabaya (sekarang bernama Kabupaten Gresik). Luas kota bertambah 15.461,124 hektar atau 15,46 kelometer persegi, sehingga luas kota Surabaya menjadi 22.181,12 hektar atau 221,18 kilometer per-segi.</p>
<p>Entah apa dasarnya, setelah tahun 1965 pada keterangan dan dalam buku agenda resmi Pemerintahan Kota Surabaya terjadi perubahan luas wilayah Kota Besar Surabaya menjadi 29.178 hektar</p>
<p>Sejak tahun 1992, berdasarkan pemotretan udara, ternyata luas Surabaya 32.636,68 hektar.</p>
<p>Memang, begitulah kenyataannya, konon hingga sekarang, luas daratan kota Surabaya terus bertambah. Dinas Tatakota Pemkot Surabaya, Senin, 12 Mei 2003, pernah mengungkap pertambahan luas daratan itu disebabkan lumpur yang hanyut ke muara sungai, terutama di hilir Kali Jagir sampai daerah Wonorejo. Akibatnya, selain muara sungai menyempit, juga semakin dangkalnya laut di muara sungai, bahkan menimbulkan tanah oloran baru.</p>
<p>Kalau kita amati dan kita cermat melakukan jalan keliling kota, pertambahan daratan Surabaya itu, juga akibat kegiatan reklamasi pantai dan pengurukann laut. Kegiatan yang dilakukan pihak swasta ini, pertama di daerah pertambakan, pembangunan perumahan di pinggir pantai serta perluasan daratan yang dilakukan pengelola Pantai Ria Kenjeran.</p>
<p>Kalau dalam buku agenda tahun 1980-an, luas Surabaya tertulis 29 ribu hektar. Kemudian pada tahun 1990-an dari hasil pemotretan udara, luas Kota Surabaya 32,63 ribu hektar. Namun, di tahun 2003, Kepala Dinas Tatakota Pemkot Surabaya Ir.Erlina Soemartomo (waktu itu) menyebut luas Kota Surabaya, 35 ribu hektar lebih. Kendati demikian, pada buku kerja (agenda) resmi terbitan Pemkot Surabaya tahun 2002, 2003, 2004, 2005 dan 2006, luas wilayah kota Surabaya tetap dicetak 326,37 km2 atau 32,63 ribu hektar lebih.</p>
<p><strong>Tutur Tinular</strong></p>
<p>Kembali cerita tentang kapan Surabaya mulai disebut dan mulai ada, atau “lahir” , versinya macam-macam. Dalam cerita lama, seperti yang terdapat, dalam buku Kumpulan Cerita Rakyat Jawa Timur yang diterbitkan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977, ada dongeng tentang Surabaya.</p>
<p>Selain dongeng, juga ada cerita dari cerita yang disampaikan secara berkesinambungan dari nenek moyang kepada kakek, dari kakek atau nenek kepada ayah dan ibu, kemudian dari ibu kepada anak dan cucu, terus pula kepada cicit dan buyut, begitu seterusnya sampai sekarang ini. Kalau boleh dikatakan seperti <em>tutur tinular</em>, yakni penuturan yang kemudian ditularkan atau disebarluaskan kepada generasi berikutnya Tentu cerita dan cerita itu sudah tidak orisinal lagi, dipoles di sana-sini, bahkan ditaburi bumbu penyedap, sehingga rasanya menjadi asyik.</p>
<p>Surabaya yang dulunya hutan belantara di muara sungai Kali Brantas, kemudian melahirkan sungai yang berasal dari selat-selat yang terdapat dari tanah oloran yang kemudian menjadi pulau. Sungai-sungai itu tidak kurang dari 50 sungai yang disebut kali. Mulai dari kali yang cukup besar, yakni Kali Surabaya dari Mojokerto sampai Gunungsari. Kemudian, terpecah menjadi dua kali yang agak besar, Kali Mas yang mengalir dari Wonokromo ke arah Tanjung Perak dan yang kedua Kali Wonokromo yang mengalir ke arah Rungkut. Ada lagi Kali Anak yang mengalir ke arah perbatasan Surabaya-Gresik. Dan, sisanya, kali-kali yang kecil, seperti: Kali Asin, Kali Sosok, Kali Pegirian, Kali Kundang, Kali Ondo, Kali Rungkut, Kali Waron, Kali Kepiting, Kali Judan, Kali Mir, Kali Dami, Kali Lom, Kali Deres, Kali Jagir, Kali Wonorejo dan masih puluhan kali lagi yang kecil-kecil.</p>
<p>Sebagai muara sungai besar, di muara itu mengendaplah lumpur, apalagi berulangkali lumpur letusan Gunung Kelud, hanyut ke muara dan membentuk pulau-pulau. Dari berbagai pulau yang merupakan kepulauan itu, lahirlah Surabaya. Pulau-pulau itu memang tidak begitu menonjol, kecuali Pulau Wonokromo dan Pulau Domas. Sedangkan yang lainnya berbentuk rawa dan danau-danau kecil yang disebut kedung, serta sebagian dijadikan tambak. Ada lagi yang masih berbentuk karang.</p>
<p>Maka, tidak heran kalau di seantero Kota Surabaya saat ini nama tempat diawali dengan nama kedung, tambak dan karang. Contoh, Tambaksari, Tambakasri, Tambakoso Wilangun, Tambakbayan, Tambakjati, Tambakrejo, Tambakmadu, Kedungdoro, Kedungsari, Kedungasem, Kedung Baruk, Kedung klinter, Kedungsroko, Kedungcowek, Kedungmangu, Karangmenjangan, Karangasem, Karangrejo, Karang Tembok, Karanggayam dan lain-lain.</p>
<p>Juga ada yang berbentuk tegal, seperti Tegalsari. Konon di Tegalsari atau daerah Surabayan inilah cikal-bakal penduduk daratan Surabaya yang kemudian berkembang sampai ke daerah Bubutan dan sekitar yang kemudian menjadi pusat pemerintahan Adipati Surabaya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Asal Nama Surabaya</strong></p>
<p>Pada umumnya, masyarakat Kota Surabaya menyebut asal nama Surabaya adalah dari untaian kata Sura dan Baya atau lebih popular dengan sebutan <em>Sura ing Baya</em>, dibaca <em>Suro ing Boyo</em>. Paduan dua kata itu berarti “berani menghadapi tantangan”.</p>
<p>Namun berdasarkan filosofi kehidupan, warga Surabaya yang hidup di wilayah pantai menggambarkan dua perjuangan hidup antara darat dan laut. Di dua alam ini ada dua penguasa dengan habitat bertetangga yang berbeda, tetapi dapat bertemu di muara sungai. Dua makhluk itu adalah ikan Sura (<em>Suro</em>) dan Buaya (<em>Boyo</em>).</p>
<p>Perlambang kehidupan darat dan laut itu, sekaligus memberikan gambaran tentang warga Surabaya yang dapat menyatu, walaupun asalnya berbeda. Begitu pulalah warga Surabaya ini, mereka berasal dari berbagai suku, etnis dan ras, namun dapat hidup rukun dalam bermasyarakat.</p>
<p>Hasil penelitian menunjukkan, ejaan nama Surabaya awalnya adalah: <em>Curabhaya</em>. Tulisan ini di antaranya ditemukan pada prasasti Trowulan I dari tahun Caka 1280 atau 1358 M. Dalam prasasti itu tertulis <em>Curabhaya</em> termasuk kelompok desa di tepi sungai sebagai tempat penambangan yang dahulu sudah ada (<em>nadira pradeca nguni kalanyang ajnahaji pracasti</em>).</p>
<p>Nama Surabaya muncul dalam <em>kakawin Negarakartagama</em> tahun 1365 M. Pada bait 5 disebutkan: <em>Yen ring Janggala lok sabha n rpati ring Surabhaya terus ke Buwun</em>. Artinya: Jika di Jenggala ke laut, raja tinggal di Surabaya terus ke Buwun.</p>
<p>Cerita lain menyebutkan Surabaya semula berasal dari Junggaluh, Ujunggaluh atau Hujunggaluh. Ini, terungkap pada pemerintahan Adipati Jayengrono. Kerabat kerajaan Mojopahit ini diberi kekuasaan oleh Raden Wijaya untuk memerintah di Ujunggaluh. Di bawah pemerintahan Jayengrono, perkembangan pesat Ujunggaluh sebagai pelabuhan pantai terus manarik perhatian bangsa lain untuk berniaga di sini.</p>
<p>Suatu keanehan, ternyata sejarah Surabaya ini terputus-putus. Kalau sebelumnya Surabaya dianggap sebagai penjelmaan dari Hujunggaluh atau Ujunggaluh, namun belum satupun ahli sejarah menemukan sejak kapan nama Hujunggaluh itu “hilang” dan kemudian sejak kapan pula nama Surabaya, benar-benar mulai dipakai sebagai pengganti Hujunggaluh. Perkiraan sementara, hilangnya nama Hujunggaluh itu pada abad ke-14.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Mitos <em>Cura-bhaya</em></strong></p>
<p>Ada lagi sumber lain yang mengungkap tentang asal-usul nama Surabaya. Buku kecil yang diterbitkan PN.Balai Pustaka tahun 1983, tulisan Soenarto Timoer, mengungkap cerita rakyat sebagai sumber penelitian sejarah. Bukunya berjudul: Menjelajahi Jaman Bahari Indonesia “Mitos <em>Cura-Bhaya</em>”. Dari tulisan sepanjang 61 halaman itu, Soenarto Timoer membuat kesimpulan, bahwa hari jadi Surabaya harus dicari antara tahun-tahun 1334, saat meletusnya Gunung Kelud dan tahun 1352 saat kunjungan Raja Hayam Wuruk ke Surabhaya (sesuai <em>Nagarakrtagama, pupuh</em> XVII:5).</p>
<p>Surabaya tidak bisa dilepaskan dari nama semula Hujunggaluh, karena perubahan nama menunjukkan adanya suatu motif. Motif dapat pula menunjukkan perkiraan kapan perubahan itu terjadi. Bahwa Hujunggaluh itu adalah Surabaya yang sekarang dapat diteliti dan ditelusuri berdasarkan makna namanya, lokasi dan arti kedudukannya dalam percaturan negara.</p>
<p>Ditilik dari makna, nama “Hujung” atau ujung tanah yang menjorok ke laut, yakni tanjung, dapat dipastikan wilayah ini berada di pantai. “Galuh” artinya emas. Dalam bahasa Jawa tukang emas dan pengrajin perak disebut: <em>Wong anggaluh</em> atau <em>kemasan</em> seperti tercantum dalam kamus Juynboll dan Mardiwarsito. Dalam purbacaraka galuh sama artinya dengan perak.</p>
<p>Hujunggaluh atau Hujung Emas, bisa disebut pula sebagai Hujung Perak, dan kemudian menjadi “Tanjung Perak” yang terletak di muara sungai atau Kali Emas (Kalimas). Nah, bisa jadi Tanjung Perak sekarang itulah yang dulu bernama Hujung galuh.</p>
<p>Dilihat dari lokasi Surabaya sekarang, berdasarkan prasasti <em>Klagen,</em> lokasi Hujunggaluh itu sebagai <em>jalabuhan</em>. Artinya, tempat bertemu para pedagang lokal dan antarpulau yang melakukan bongkarmuat barang dengan perahu. Diperkirakan, kampung Galuhan sekarang yang ada di Jalan Pawiyatan Surabaya, itulah Hujunggaluh, Di sini ada nama kampung Tembok. Konon tembok itulah yang membatasi laut dengan daratan.</p>
<p>Tinjauan berdasar arti kedudukannya, pada tahun 905, Hujunggaluh tempat kedudukan “<em>parujar i sirikan</em>” (prasati Raja Balitung, Randusari, Klaten). <em>Parujar</em> adalah wali daerah setingkat bupati. Bisa diartikan, bahwa Hujunggaluh pernah menjadi ibukota sebuah daerah setingkat kabupaten, satu eselon di bawah kedudukan “<em>raka i sirikan</em>”, pejabat agung kerajaan setelah raja.</p>
<p><strong> </strong>Nah, sejak kapan Hujunggaluh berubah menjadi Surabaya? Mamang, perubahan nama tidak sama dengan penggantian tanggal lahir atau hari jadi. Namun, hingga sekarang belum ada satupun prasasti atau data otentik yang resmi menyebut perubahan nama Hujunggaluh menjadi Surabaya.</p>
<p>Mitos dan mistis sejak lama mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk di Pulau Jawa. Maka mitos <em>Cura-bhaya</em> yang dikaitkan dengan nama Surabaya sekarang ini tentunya dapat dihubungkan pula dengan mitologi dalam mencari hari jadi Surabaya. Perubahan nama dari Hujunggaluh menjadi Surabaya dapat direkonstruksi dari berbagai sudut pandang.</p>
<p>Bencana alam meletusnya gunung Kelud tahun 1334 membawa korban cukup banyak. Peristiwa itu mengakibatkan terjadinya perubahan di muara kali Brantas dengan anaknya Kalimas. Garis pantai Hujunggaluh bergeser ke utara. Timbul anggapan pikiran mistis yang mengingatkan kembali kepada pertarungan penguasa lautan, yakni ikan hiu yang bernama <em>cura</em>, melawan penguasa darat, buaya (<em>bhaya</em>). Dalam dunia mistis kemudian menjadi mitos, bahwa untuk menghentikan pertikaian antara penguasa laut dengan darat itu, maka digabungkan namanya dalam satu kata <em>Cura-bhaya</em> atau sekarang Surabaya.</p>
<p>Mitos ikan dengan buaya ini sudah ada pada abad XII-XIII, sebagai pengaruh ajaran Budha Mahayana melalui cerita Kuntjarakarna. Reliefnya terpahat di dinding gua Selamangleng, Gunung Klotok, Kediri.</p>
<p>Bagaimanapun juga, mitos ikan dan buaya yang sekarang menjadi lambang Kota Surabaya, hanyalah merupakan sepercik versi lokal, tulis Soenarto Timoer. Jadi mitos <em>cura-bhaya</em>, hanya berlaku di Hujunggaluh. <em>Cura-bhaya</em> adalah nama baru pengganti Hujunggaluh sebagai wujud pujian kepada <em>sang Cura mwang Bhaya</em> yang menguasai lautan dan daratan.<em> </em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Asal-usul Penduduk</strong></p>
<p>Penduduk Surabaya boleh dikatakan berasal dari pendatang. Para pendatang mulai menatap dan mendirikan perkampungan di sekitar pelabuhan dan berkembang sampai ke darat, terutama di pinggir Sungai Kalimas yang merupakan anak Sungai Kali Brantas. Lama kelamaan, nama Ujunggaluh mulai dilupakan, dan namanya berubah menjadi Surabaya di bawah pemerintahan Adipati Jayengrono. Pusat Pemerintahan Adipati Jeyangrono ini diperkirakan di sekitar Kramat Gantung, Bubutan dan Alun-alun Contong saat ini.</p>
<p>Ada temuan sejarah yang mencantumkan pada abad ke-15, bahwa waktu itu di Surabaya sudah terjadi kehidupan yang cukup ramai. Tidak kurang 1.000 (seribu) KK (Kepala Keluarga) bermukim di Surabaya. Orang Surabaya yang dicatat pada data itu umumnya keluarga kaya yang bertempat tinggal di sekitar pelabuhan. Mereka melakukan kegiatan bisnis dan usaha jasa di pelabuhan.</p>
<p>Dari hari ke hari penduduk Surabaya terus bertambah, para pendatang yang menetap di Surabaya umumnya datang melalui laut. Ada yang berasal dari Madura, Kalimantan, Sulawesi dan Sumetera. Di samping ada yang berasal dari daratan Jawa datang terbanyak melalui sungai Kali Brantas dan jalan darat melewati hutan. Tidak hanya itu, para pelaut itu juga banyak yang berasal dari Cina, India dan Arab, serta Eropa.</p>
<p>Warga pendatang di Surabaya itu, hidup berkelompok. Misalnya, mereka yang berasal dari Madura, Kalimantan, Sulawesi atau suku Melayu dari Sumatera, di samping bermukim di pantai, juga banyak yang membangun perumahan di daerah Pabean dan Pegirian. Sedangkan pendatang dari ras Arab banyak bermukim di sekitar Masjid Ampel.</p>
<p>Etnis Cina menempati kawasan Kembang Jepun, Bongkaran dan sekitarnya. Ini terkait dengan dermaga pelabuhan waktu itu berada di sungai Kalimas, di sekitar Jembatan Merah sekarang. Jumlah warga pendatang terus-menerus terjadi, akibat semakin pesatnya kegiatan dagang dan perkembangan budaya di Surabaya.</p>
<p><strong>Pengikut Sunan Ampel</strong></p>
<p>Khusus masyarakat di sekitar Ampel, sebagian besar adalah rombongan yang ikut bersama Sunan Ampel dari wilayah Mojopahit pada abad 14. Berdasarkan <em>Babad Ngampeldenta</em>, Sunan Ampel melakukan aktivitas di Surabaya sekitar tahun 1331 M hingga 1400 M. Jumlah rombongan Sunan Ampel itu berkisar antara 800 hingga 1.000 keluarga.</p>
<p>Dalam buku <em>Oud Soerabaia</em> (1931) karangan GH von Faber, halaman 288 dinyatakan Raden Rahmat pindah bersama 3.000 keluarga (<em>drieduezend huisgezinnen</em>}</p>
<p>Thomas Stamford Raffles dalam bukunya <em>The History of Java</em> (1817), halaman 117 menulis saat kepindahan Raden Rahmad dari keraton Majapahit ke Ampel, ia disertai 3.000 keluarga <em>(three thousand families</em>). Sementara itu menurut <em>Babad Ngampel Denta</em>, jumlah orang yang boyongan bersama Raden Rahmat ke Ampel Surabaya sebanyak 800 keluarga (<em>sun paringi loenggoeh domas</em>). “Domas” menurut S.Prawiroatmodjo dalam buku <em>Bausastra Jawa</em> – Indonesia (1981) artinya delapan ratus.</p>
<p>Sejak berdirinya permukiman di Surabaya, pertumbuhan penduduk berkembang cukup pesat. Ada yang datang melalui laut maupun transportasi melalui sungai. Umumnya yang melewati sungai adalah warga yang datang dari arah Blitar, Madiun, Tulungagung, Kediri dan lain-lainnya. Mojokerto yang merupakan pusat kerajaan Majapahit, menjadikan Surabaya sebagai pelabuhan lautnya. Mereka mendirikan permukiman di sepanjang Kalimas, anak Kali Brantas yang dijadikan poros lalulintas utama saat itu. Kemudian menyebar sampai ke Keputran, Kaliasin, Kedungdoro, Kampung Malang, Surabayan dan Tegalsari.</p>
<p>Setelah koloni dagang dari Eropa yang dimotori bangsa Portugis, Spanyol dan Belanda datang dan menetap di Surabaya, di tahun 1500-an, mereka mendirikan gudang dan tempat tinggal di sekitar pusat pemerintahan Adipati Surabaya, yakni di sekitar Alun-alun Contong, Bubutan, Gemblongan, Blauran, Pasar Besar dan wilayah sekitarnya.</p>
<p>Belanda yang merupakan koloni dagang rempah-rempah terbesar saat itu, mulai membentuk pemerintahan. Tanpa disadari oleh Bangsa Indonesia, Belanda mulai mencengkeramkan “kukunya” di Bumi Pertiwi ini sebagai penjajah. Termasuk di Surabaya.</p>
<p><strong>Jumlah Penduduk</strong></p>
<p>Ketika pemerintahan kota pertama kali dibentuk tanggal 1 April 1906, penduduk Kota Surabaya berjumlah 150 ribu orang lebih. Limabelas tahun kemudian, dalam cacah jiwa atau sensus penduduk tahun 1920, penduduk Surabaya tercatat 192.180 orang. Sepuluh tahun kemudian pada sensus penduduk tahun 1930, warga Kota Surabaya sudah berkembang menjadi 341.675 orang.</p>
<p>Pada zaman Jepang, di bulan September 1943 diselenggarakan cacah jiwa (sensus penduduk) Kota Surabaya (Surabaya <em>Syi</em>). Jumlah penduduk Surabaya waktu itu tercatat 518.729 orang.</p>
<p>Dalam sensus penduduk tahun 1961 tercatat resmi 1.007.945 jiwa dan tahun 1971 naik lagi menjadi 1.556.255 jiwa. Tahun 1980 penduduk resmi yang terdaftar sebagai penduduk Surabaya berkembang menjadi 2.027.913 jiwa dan tahun 1990 naik menjadi 2.473.272 jiwa.</p>
<p>Anehnya, data dari Dinas Kependudukan Kota Surabaya yang dikeluarkan pada bulan Mei 2004, seolah-olah jumlah penduduk Surabaya dari tahun 1990 hingga tahun 1999 “berkurang”. Padahal ini tidak mungkin, justru sebaliknya. Manakah data kependudukan yang akurat? Mustahil penduduk Surabaya berkurang, yang pasti, penduduk Surabaya terus bertambah.</p>
<p>Data resmi yang disajikan memang begitu kenyataannya. Tahun 1999 penduduk Surabaya tercatat 2.406.944 jiwa. Tahun 2000 sebanyak 2.443.558 jiwa, tahun 2001 bertambah jadi 2.473.461 jiwa, tahun 2002 naik lagi jadi 2.504.128 jiwa dan akhir tahun 2003 menjadi 2.656.420 jiwa. Data pada akhir April 2004, warga kota Surabaya berjumlah 2.659.566 jiwa.</p>
<p>Data inipun dikutip oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil berikutnya, yakni saat dikepalai oleh Drs.H.Hartojo. Sama dengan sebelumnya, sensus penduduk tahun 2000, penduduk Surabaya berjumlah 2.443.558 orang.</p>
<p>Secara rinci, dinas kependudukan dalam buku Informasi Kependudukan Kota Surabaya tahun 2004 berturut-turut disebutkan, penduduk Surabaya tahun 2001 sebanyak: 2.473.461 orang, tahun 2002 bertambah jadi: 2.504.128, tahun 2003 tambah lagi menjadi: 2.656.420 orang dan tahun 2004 menjadi: 2.859.655 orang.</p>
<p>Tahun 2006 hingga Agustus, tercatat jumlah penduduk Surabaya: 2.987.456 orang. Pada awal tahun 2007 diperkirakan sudah mencapai 3,3 juta orang.</p>
<p>Dari BPS (Biro Pusat Statistik) lain lagi. Tahun 1992 penduduk Surabaya berjumlah 2.259.283 jiwa, kemudian tahun berikutnya ditulis sebagai berikut: 1993 (2.286359 jiwa), 1994 (2.306.474 jiwa), 1995 (2.339.335 jiwa), 1996 (2.347.520 jiwa), 1997 (2.356.487 jiwa), 1998 (2.373.282 jiwa), 1999 (2.407.146 jiwa), 2000 (2.444.956 jiwa), 2001 (2.599.512 jiwa).</p>
<p>Data tentang jumlah penduduk Kota Surabaya, dalam “<em>Resume</em>” RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) Kota Surabaya yang diterbitkan Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, berbeda lagi.</p>
<p>Penduduk Surabaya tahun 2001 hingga 2005, kemudian proyeksi penduduk Surabaya tahun 2006 hingga 2013 adalah sebagai berikut:</p>
<p>Tahun 2001 (2.452.222 jiwa), 2002 (2.471.557 jiwa), 2003 (2.485.761 jiwa), 2004 (2.509.833 jiwa), 2005 (2.528.777 jiwa). Proyeksi tahun 2006 (2.547.586 jiwa), 2007 (2.566.257 jiwa), 2008 (2.584.894 jiwa), 2009 (2.603.258 jiwa), 2010 (2.621.558 jiwa), 2011 (2.639.724 jiwa), 2012 (2.657.766 jiwa) dan tahun 2013 (2.675.671 jiwa).</p>
<p>Umumnya para pejabat dan politisi di Surabaya dewasa ini menyebut angka rata-rata penduduk Surabaya adalah sekitar 3 juta jiwa lebih.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fransiskusharianja.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fransiskusharianja.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fransiskusharianja.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fransiskusharianja.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fransiskusharianja.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fransiskusharianja.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fransiskusharianja.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fransiskusharianja.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fransiskusharianja.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fransiskusharianja.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fransiskusharianja.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fransiskusharianja.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fransiskusharianja.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fransiskusharianja.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fransiskusharianja.wordpress.com&amp;blog=12214982&amp;post=14&amp;subd=fransiskusharianja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/14/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a2f0735cff9cfe460f32c463464a590c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fransiskusharianja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/12/</link>
		<comments>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/12/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 07:51:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fransiskusharianja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/12/</guid>
		<description><![CDATA[AWAL MULA FACEBOOK 9 Mei 2009 — noego08 Facebook memang merupakan salah satu fenomena menarik dari dunia maya. Setelah orang-orang asyik berkutat dengan jejaring sosial seperti Friendster, kini mereka pun mulai beralih kepada jejaring sosial yang baru yaitu Facebook. Ibarat kacang goreng, jejaring sosial yang diluncurkan pada tanggal 4 Februari 2004 ini, semakin hari semakin laris [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fransiskusharianja.wordpress.com&amp;blog=12214982&amp;post=12&amp;subd=fransiskusharianja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>AWAL MULA FACEBOOK</h2>
<p>9 Mei 2009 — noego08</p>
<div>
<div>
<p>Facebook memang merupakan salah satu fenomena menarik dari dunia maya. Setelah orang-orang asyik berkutat dengan jejaring sosial seperti Friendster, kini mereka pun mulai beralih kepada jejaring sosial yang baru yaitu Facebook. Ibarat kacang goreng, jejaring sosial yang diluncurkan pada tanggal 4 Februari 2004 ini, semakin hari semakin laris jumlah pengaksesannya. Menurut Alfacebook.com, di Indonesia jumlah orang yang terdaftar dlam akun Facebook tercatat ada lebih dari 1,5 juta orang. Tak heran, jika Indonesia menjadi negara Asia Tenggara dengan tingkat pertumbuhan Facebook yang tercepat. Bahkan, Indonesia pun tercatat dalam 10 besar negara pengguna jejaring sosial, yang mulai dibuka untuk umum mulai tahun 2006 ini. Anda mungkin masih ingat dengan sebuah kisah nyata mengenai seorang mahasiswa yang drop out dari bangku kuliahnya dan kini menjadi orang terkaya (secara materi) di dunia? Ya, sosok itu bernama Bill Gates, sang pendiri Microsoft. Terilhami oleh kisah sukses Bill Gates, seorang Mahasiswa bernama Mark Elliot Zuckenberg (14 mei 1984) sepertinya akan mengikuti langkah Bill Gates.</p>
<p>Sama seperti seniornya, ia juga drop out dari Universitas Harvard. Kisah Zuckenberg berawal ketika ia iseng –iseng mulai membuat Facebook di kamar asrama bersama 2 rekan sekamarnya Dustin Moskovitz dan Chris Hughes dibantu rekan kuliahnya, Andrew McCollum. Akhirnya,siapa yang menyangka bermula dari iseng-iseng membuat Facebook dari kalangan terbatas, kini Zuckenberg menjadi seorang miliarder muda. Sebenarnya apakah yang membuat Facebook begitu mewabah? Wabah di sini bukan bararti seperti wwabah flu babi yang sekarang sedang marak diperbincangkan. Wabah di sini ibarat sebuah ajang tren yang kini sedang bergelora di mana-mana. Berbeda dengan jejaring sosial lainnya, Facebook memang menawarkan hampir semua fitur dalam satu wadah. Ya, Anda dapat menggunakan Facebook untuk menjalin pertemanan, bergabung ke grup atau komunitas sosial, chatting, bermain online game, mengirim surat elektronik, serta meng-upload foto dan video. Selain itu, salah satu kelebihan lain dari Facebook adalah memiliki program library API (Application Programming Interface ). Program ini memungkinkan siapa saja untuk membuat aplikasi mini atau widget yang nantinya dapat dipasang atau digunakan di Facebook itu sendiri. Library API ini memungkinkan semua orang untuk berkreasi. Hal ini secara tidak langsung tentu saja membuat Facebook semakin populer. Belajar dari pendahulunya, Facebook memang memiliki aplikasi lebih beragam dibandingkan friendster. Apalagi Facebook pun memiliki aplikasi yang digemari komunitas internet seperti chatting. Jadi, dapat dikatakan bahwa Facebook merupakan sebuah kombinasi yang menarik antara aplikasi Friendster dengan aplikasi chatting seperti yang biasa Anda lakukan melalui Yahoo Messenger.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fransiskusharianja.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fransiskusharianja.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fransiskusharianja.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fransiskusharianja.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fransiskusharianja.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fransiskusharianja.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fransiskusharianja.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fransiskusharianja.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fransiskusharianja.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fransiskusharianja.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fransiskusharianja.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fransiskusharianja.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fransiskusharianja.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fransiskusharianja.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fransiskusharianja.wordpress.com&amp;blog=12214982&amp;post=12&amp;subd=fransiskusharianja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/12/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a2f0735cff9cfe460f32c463464a590c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fransiskusharianja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Batu Menangis</title>
		<link>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/batu-menangis/</link>
		<comments>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/batu-menangis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 07:49:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fransiskusharianja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fransiskusharianja.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Batu Menangis Bagaikan bulan yang elok, tubuh laksana pualam, rumput terurai seperti mayang… itulah umpama yang pantas untuk gadis cantik yang tinggal bersama ibunya yang sederhana di sebuah desa terpencil itu. Semua orang akan mengakuinya saat memandang gadis itu. Tak henti-hentinya ia merias dirinya. Cermin di dinding rumahnya tak jemu meski gadis nan elok itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fransiskusharianja.wordpress.com&amp;blog=12214982&amp;post=10&amp;subd=fransiskusharianja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Batu Menangis</h2>
<p>Bagaikan bulan yang elok, tubuh laksana pualam, rumput terurai seperti mayang… itulah umpama yang pantas untuk gadis cantik yang tinggal bersama ibunya yang sederhana di sebuah desa terpencil itu. Semua orang akan mengakuinya saat memandang gadis itu. Tak henti-hentinya ia merias dirinya. Cermin di dinding rumahnya tak jemu meski gadis nan elok itu terus memandanginya. Namun mereka terbius kecantikan itulah si gadis ini jadi angkuh dan malas. Ia tak sadar bahwa keelokan yang dikaruniakan Tuhan itu adalah berkah yang harus disyukuri dengan kerendahan hati.</p>
<p>Ibu gadis ini adalah ibu yang lembut, baik hati dan bijak. Ia dengan sabar menemani gadis ini. Ia hanya berharap suatu ketika anak gadisnya menyadari betapa keelokan parasnya tak ada guna apabila hatinya angkuh. Makin sedih juga sang ibu melihat anaknya yang cantik itu juga pemalas, dan kemauannya harus selalu dituruti meskipun kadang tidak masuk akal. Tetapi sang ibu terus berusaha menuruti apa yang dikehendaki anak gadisnya itu. Di dalam harinya ia berdoa, semoga Tuhan menolong dia menyadarkan anak gadisnya itu. Ibu itu tak punya daya untuk mengubahnya.</p>
<p>Suatu hari, seperti biasa gadis itu mengurung dirinya di dalam kamarnya. Ia tak mau matahari merusak kulitnya. Ia enggan debu-debu mengotori wajahnya. Ia tak suka orang-orang mencuri kemolekannya.</p>
<p>“Ibu…!”</p>
<p>Gadis itu memanggil ibunya dengan suara keras.</p>
<p>Sang ibu tergopoh menghampiri putrinya.</p>
<p>“Bukankah sudah berulang kali aku bilang bahwa setiap aku bangun ibu harus sudah menata kamar ini hingga rapi, menyediakan lulur dan air hangat, dan membuatkan minuman sari buah untukku…?” katanya keras dan marah.</p>
<p>Ibunya berusaha sabar, “Bukankah kamu sudah dewasa, anakku. Kau bisa mengerjakan sendiri semua itu.”</p>
<p>“Ibu tahu sendiri, aku sedang sibuk,” jawab gadis itu.</p>
<p>Sang ibu hanya mengelus dada. Hatinya gelisah. Kesibukan mempercantik diri, hanya itulah yang selalu dilakukan putrinya yang pemalas itu.</p>
<p>Suatu hari, sang ibu mencoba untuk membujuk anaknya agar mulai mengubah tabiat buruknya.</p>
<p>“Ibu sudah tua, dan jika ibu dipanggil oleh Tuhan maka Ibu tak khawatir lagi engkau bisa mengurusi dirimu sendiri,” kata ibunya.</p>
<p>“Aku tidak minta kamu jadi ibuku,” ketus sang gadis.</p>
<p>Ibu sungguh sedih mendengarnya.</p>
<p>“Baiklah, Anakku. Ibu hanya memohon agar kamu tidak mengurung diri di rumah. Kenalilah lingkunganmu agar ibu tenang jika suatu saat dipanggil Tuhan,” ujar itu dengan penuh kesabaran.</p>
<p>Hari makin berlalu. Akhirnya sang gadis mau menuruti kehendak ibunya. Ia tidak keberatan untuk ke mana pun bersama ibunya. Ke kepta, ke toko, ke rumah kerabat bahkan hingga belanja ke pasar. Tapi anaknya ini mengajukan syarat bahwa ibunya tak diperbolehkan mengakui di depan umum bahwa ia ibunya. Sebagai seorang ibu tentulah hatinya teriris mendengar itu.</p>
<p>“Oh Tuhan, mengapa untuk mengakui aku ibunya saja dia demikian malu? Mengapa anakku seangkuh itu, ya Tuhan…”</p>
<p>Orang-orang benar-benar tak percaya kedua perempuan itu adalah ibu dan anaknya. Penampilan keduanya alangkah berlawanan. Si putrid begitu mewah, sementara sang ibu teramat bersahaja. Bahkan sang ibu yang tua dengan pakaian yang kusam itu bagaikan seorang pembantu saja layaknya. Apalagi sang putri tak pernah mengizinkan berada di dekatnya. Jika berjalan, sang ibu harus berada di belakangnya.</p>
<p>“Apakah mungkin dia ibunya?”</p>
<p>“Ah mungkin saja bukan?”</p>
<p>“Tapi…”</p>
<p>Orang-orang berbisik-bisik mempergunjingkan hal itu setiap bebrtemu keduanya.</p>
<p>“Bukan! Dia budakku,” kata gadis itu.</p>
<p>Alangkah terlukanya sang ibu mendengar itu. Hatinya menangis dan ia benar-benar tak berdaya menahan sakit hatinya. Ia berbisik dan memohon kepada Tuhan.</p>
<p>“dengan cara apa Engkau menghukum anak yang sombong dan berhati busuk seperti ini ya Tuhan? Jika dia anak kecil, hambamu pasti mampu memahaminya. Tapi ia sudah dewasa dan memiliki akal. Sungguh hamba tidak bis amengerti,” rintihnya.</p>
<p>Tuhan selalu mendengar jeritan hati hambanya. Apapun yang dikehendaki Tuhan pastilah suatu kebaikan. Maka ketika ia menghukum gadis yang sombong itu, maka Tuhan pasti berkehendak baik untuk umatnya.</p>
<p>Suatu haru gadis itu tiba-tiba berubah menjadi batu karena hatinya yang congkak dank eras. Gadis itu menyadari kesalahannya, tapi terlambat karena hukuman telah menimpanya. Ia pun hanya bisa menangis. Hingga sekarang, batu itu dikenal sebagai “Batu Menangis”.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fransiskusharianja.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fransiskusharianja.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fransiskusharianja.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fransiskusharianja.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fransiskusharianja.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fransiskusharianja.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fransiskusharianja.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fransiskusharianja.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fransiskusharianja.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fransiskusharianja.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fransiskusharianja.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fransiskusharianja.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fransiskusharianja.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fransiskusharianja.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fransiskusharianja.wordpress.com&amp;blog=12214982&amp;post=10&amp;subd=fransiskusharianja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/batu-menangis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a2f0735cff9cfe460f32c463464a590c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fransiskusharianja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>asal mula candi BOROBUDUR</title>
		<link>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/asal-mula-candi-borobudur/</link>
		<comments>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/asal-mula-candi-borobudur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 07:44:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fransiskusharianja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fransiskusharianja.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[ASAL MULA CANDI BOROBUDUR PENDAHULUANA. Alasan Memilih Judul Yang menjadi alasan memilih judul dalam karya tulis yang berjudul “ Candi Borobudur “ ini adalah sebagai berikut: 1. Kita sebagai siswa yang masih banyak memerlukan pengetahuan yang perlu di ketahui 2. Sebagai siswa Supaya dapat menggali ilmu Pengetahuan lebih dalam dan mengembangkannya 3. Sebagai siswa tertarik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fransiskusharianja.wordpress.com&amp;blog=12214982&amp;post=8&amp;subd=fransiskusharianja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>ASAL MULA CANDI BOROBUDUR</div>
<p>PENDAHULUANA. Alasan Memilih Judul</p>
<p>Yang menjadi alasan memilih judul dalam karya tulis yang berjudul “ Candi Borobudur “ ini adalah sebagai berikut:<br />
1. Kita sebagai siswa yang masih banyak memerlukan pengetahuan yang perlu di ketahui<br />
2. Sebagai siswa Supaya dapat menggali ilmu Pengetahuan lebih dalam dan mengembangkannya</p>
<p>3. Sebagai siswa tertarik kepada keindahan dan seni budaya bangunan Candi Borobudur<br />
4. Untuk m3engetahui lebih lanjut tentang sejarah berdirinya Candi Borobudur</p>
<p>B. Batasan Masalah</p>
<p>Agar pembahasan sesuai dengan yang di inginkan penulis dapat tercapai dengan tepat dan benar maka penulis membatasi masalah sebagai berikut:<br />
1. Bagaimana Sejarah Candi Borobudur?</p>
<p>2. Apakah Arti Borobudur?<br />
3. Benda – Benda Apa Saja Yang Ada Di Candi Borobudur?<br />
4. Bagaimana Peranan Candi Borobudur Bagi Obyek Wisata?C. Tujuan Yang Ingin Di Capai</p>
<p>Dengan di buatnya karya tulis ini, penulis mempunyai tujuan pokok yang ingin di capai adalah sebagai berikut:<br />
1. Untuk mengetahui dan menghayati sejarah berdirinya Candi Borobudur<br />
2. Sebagai siswa harus tahu latar belakang di dirikannya Candi Borobudur<br />
3. Untuk mengetahui makna dan arti yang terkandung dalam komplek bangunan Candi Borobudur<br />
4. Mengetahui peranan Candi Borobudur sebagai objek Wisata</p>
<p>D. Sumber – Sumber Yang Di Gunakan</p>
<p>Sumber – Sumber bahasan yang di gunakan untuk pembuatan karya tulis ini adalah sebagai berikut:<br />
1. Metode Deskriptif: yaitu Metode yang menggambarkan masalah yang ada pada masa sekarang<br />
2. Metode Biografi: Yaitu metode dengan cara meneliti batu – batu majalah dan media lainya<br />
3. Metode Observasi: yaitu penulis terjun langsung ke lapangan untuk penelitian agar mudah mendapat data – data<br />
4. Dan informasi dari beberapa tokoh masyarakat di sekitar Candi Borobudur</p>
<p>BAB II</p>
<p>LATARBELAKANG CANDI BOROBUDUR</p>
<p>A. Waktu Di Dirikan</p>
<p>Banyak buku – buku sejarah yang menuliskan tentang Candi Borobudur akan tetapi kapan Candi Borobudur itu di dirikan tidaklah dapat di ketahui secara pasti namun suatu perkiraan dapat di peroleh dengan tulisan singkat yang di pahatkan di atas pigura relief kaki asli Candi Borobudur ( Karwa Wibhangga ) menunjukan huruf sejenis dengan yang di dapatkan dari prasati di akhir abad ke – 8 sampai awal abad ke – 9 dari bukti – bukti tersebut dapat di tarik kesimpulan bahwa Candi Borobudur di dirikan sekitar tahun 800 M.<br />
Kesimpulan tersebut di atas itu ternyata sesuai benar dengan dengan kerangka sejarah Indonesia pada umumnya dan juga sejrah yang berada di daerah jawa tengah paa khususnya periode antara abad ke – 8 dan pertengahan abad ke – 9 di terkenal dengan abad Emas Wangsa Syailendra kejayaan ini di tandai di bangunnya sejumlah besar candi yang di lereng – lereng gunung kebanyakan berdiri khas bangunan hindu sedangkan yang bertebaran di dataran – dataran adaaalah khas bangunan Budha tapi ada juga sebagian khas Hindu<br />
Dengan demikian dapat di tarik kesimpulan bahwa Candi Borobudur di bangun oleh wangsa Syailendra yang terkenal dalam sejarah karena karena usaha untuk menjungjung tinggi dan mengagungkan agama Budha Mahayana.</p>
<p>B. Penemuan Kembali</p>
<p>Borobudue yang menjadi keajaiban dunia menjulang tinggidi antara dataran rendah di sekelilingnya<br />
Tidak akan pernah mamasuk akal mereka melihat karya seni terbesar yang merupakan hasil karya sangat mengagumkan dan tidak lebih masuk akal lagi bila di katakan Candi Borobudur pernah mengalami kerusakan<br />
Memang demikian keadaannya Candi Borobudur terlupakan selama tenggang waktu yang cukup lama bahkan sampai berabad – abad bangunan yang begitu megahnya di hadapkan pada proses kehancuran. Kira – kira hanya 150 tahun Candi Borobudur di gunakan sebagai pusat Ziarah, waktu yang singkat di bandingkan dengan usianya ketika pekerja menghiasi / membangun bukit alam Candi Borobudur dengan batu – batu di bawah pemerintahan yang sangat terkenal yaitu SAMARATUNGGA, sekitar tahun 800 – an dengan berakhirnya kerajaan Mataram tahu 930 M pusat kehidupan dan kebudayaan jawa bergeser ke timur<br />
Demikian karena terbengkalai tak terurus maka lama – lama di sana – sini tumbuh macam – macam tumbuhan liar yang lama kelamaan menjadi rimbun dan menutupi bangunannya. Pada kira – kira abad ke – 10 Candi Borobudur terbengkalai dan terlupakan.<br />
Baru pada tahun 1814 M berkat usaha Sir Thomas Stamford Rafles Candi Borobudur muncul dari kegelapan masa silam. Rafles adalah Letnan Gubernur Jendral Inggris, ketika Indonesia di kuasai / di jajah Inggris pada tahun 1811 M – 1816 M.<br />
Pada tahun 1835 M seluruh candi di bebaskan dari apa yang menjadi penghalang pemandangan oleh Presiden kedua yang bernama Hartman, karen begitu tertariknya terhadap Candi Borobudur sehingga ia mengusahakan pembersihan lebih lanjut, puing –puing yang masih menutupi candi di sigkirkan dan tanah yang menutupi lorong – lorong dari bangunan candi di singkirkan semua shingga candi lebih baik di bandingkan sebelumnya.</p>
<p>C. Penyelamatan I</p>
<p>Semenjak Candi Borobudur di temukan dimulailah usaha perbaikan dan pemugaran kembali bangunan Candi Borobudur mula – mula hanya dilakukan secara kecil – kecilan serta pembuatan gambar – gambar dan photo – photo reliefnya. Pemugaran Candi Borobudur yang pertam kali di adakan pada tahun 1907 M – 1911 M di bawah pimpinan Th Van erf dengan maksudnya adalah untuk menghindari kerusakan – kerusakan yang lebih besar lagi dari bangunan Candi Borobudur walaupun banyak bagian tembok atau dinding – dinding terutam tingkat tiga dari bawah sebelah Barat Laut, Utara dan Timur Laut yang masih tampak miring dan sangat mengkhawatirkan bagi para pengunjungmaupun bangunannya sendiri namun pekerjaan Van Erp tersebut untuk sementara Candi Borobudur dapat dsi selamatkan dari kerusakan yang lebih besar.<br />
Mengenai gapura – gapura hanya beberapa saja yang telah di kerjakan masa itu telah mengembalikan kejayaan masa silam, namun juga perlu di sadari bahwa tahun – tahun yang di lalui borobudur selama tersembunyi di semak – semak secara tidak langsung telah menutupi adan melindungi dari cuaca buruk yang mungkin dapat merusak bangunan Candi Borobudur, Van Erp berpendapat miring dan meleseknya dinding – dinding dari bangunan itu tidak sangat membahayakan bangunan itu, Pendapat itu sampai 50 tahun kemudian memang tidak salah akan tetapi sejak tahun 1960 M pendapat Tn Vanerf itu mulai di ragukan dan di khawatirkan akan ada kerusakan yang lebih parah</p>
<p>D. Pemugaran Candi Borobudur</p>
<p>Pemugaran Candi Borobudur di mulai tanggal 10 Agustus 1973 prasati dimulainya pekerjaan pemugaran Candi Borobudur terletak di sebelah Barat Laut Menghadap ke timur karyawan pemugaran tidak kurang dari 600 orang diantaranya ada tenaga – tenaga muda lulusan SMA dan SIM bangunan yang memang diberikan pendidikan khususnya mengenai teori dan praktek dalam bidang Chemika Arkeologi ( CA ) dan Teknologi Arkeologi ( TA )<br />
Teknologi Arkeologi bertugas membongkar dan memasang batu &#8211; batu Candi Borobudur sedangkan Chemika Arkeologi bertugas membersihkan serta memperbaiki batu – batu yang sudah retak dan pecah, pekerjaan – pekerjan di atas bersifat arkeologi semua di tangani oleh badan pemugaran Candi Borobudur, sedangkan pekerjaan yang bersifat teknis seperti penyediaan transportasi pengadaaan bahan – bahan bangunan di tangani oleh kontraktor ( PT NIDYA KARYA dan THE CONTRUCTION AND DEVELOPMENT CORPORATION OF THE FILIPINE ).<br />
Bagian – bagian Candi Borobudur yang di pugar ialah bagian Rupadhatu yaitu tempat tingkat dari bawah yang berbentuk bujur sangkar sedangkan kaki Candi Borobudur serta teras I, II, III dan stupa induk ikut di pugar pemugaran selesai pada tanggal 23 Februari 1983 M di bawah pimpinan DR Soekmono dengan di tandai sebuah batu prasati seberat + 20 Ton.<br />
Prasasti peresmian selesainya pemugaran berada di halaman barat dengan batu yang sangat besar di buatkan dengan dua bagian satu menghadap ke utara satu lagi menghadap ke timur penulisan dalam prasasti tersebut di tangani langsung oleh tenaga yang ahli dan terampil dari Yogyakarta yang bekerja pada proyek pemugaran Candi Borobudur.</p>
<p>E. Bangunan Candi Borobudur</p>
<p>a. Uraian Banguan Candi Borobudur<br />
Candi Borobudur di bangun mengunakan batu Adhesit sebanyak 55.000 M3 bangunan Candi Borobudur berbentuk limas yang berundak – undak dengan tangga naik pada ke – 4 sisinya ( Utara, selatan, Timur Dan Barat ) pada Candi Borobudur tidak ada ruangan di mana orang tak bisa masuk melainkan bisa naik ke atas saja.<br />
Lebar bangunan Candi Borobudur 123 M<br />
Panjang bangunan Candi Borobudur 123 M<br />
Pada sudut yang membelok 113 M<br />
Dan tinggi bangunan Candi Borobudur 30.5 M<br />
Pada kaki yang asli di di tutup oleh batu Adhesit sebanyak 12.750 M3 sebagai selasar undaknya.<br />
Candi Borobudur merupakan tiruan dari kehidupan pada alam semesta yang terbagi ke dalam tiga bagian besar di antaranya :<br />
1. Kamadhatu: Sama dengan alam bawah atau dunia hasrat dalam dunia ini manusia terikat pada hasrat bahkan di kusai oleh hasrat kemauan dan hawa nafsu, Relief – relief ini terdapat pada bagian kaki candi asli yang menggambarkan adegan – adegan Karmawibangga ialah yang melukiskan hukum sebab akibat.<br />
2. Rupadhatu: Sama dengan alam semesta antara dunia rupa dalam hal manusia telah meninggalkan segala urusan keduniawian dan meninggalkan hasrat dan kemauan bagian ini terdapat pada lorong satu sampai lorong empat<br />
3. Arupadhatu: Sama dengan alam atas atau dunia tanpa rupa yaitu tempat para dewa bagian ini terdapat pada teras bundar ingkat I, II, dan III beserta Stupa Induk.<br />
b. Patung<br />
Di dalam bangunan Budha terdapat patung – patung Budha berjumlah 504 buah diantaranya sebagai berikut:<br />
Patung Budha yang terdapat pada relung – relung : 432 Buah<br />
Sedangkan pada teras – teras I, II, III berjumlah : 72 Buah<br />
Jumlah : 504 Buah</p>
<p>Agar lebih jelas susunan – susunan patung Budha pada Budha sebagai berikut:<br />
1. Langkah I Teradapat : 104 Patung Budha<br />
2. Langkah II Terdapat : 104 Patung Budha<br />
3. Langkah III Terdapat : 88 Patung Budha<br />
4. Langkah IV Terdapat : 22 Patung Budha<br />
5. Langkah V Terdapat : 64 Patung Budha<br />
6. Teras Bundar I Terdapat : 32 Patung Budha<br />
7. Teras Bundar II Terdapat : 24 Patung Budha<br />
8. Teras Bundar III Terdapat : 16 Patung Budha<br />
Jumlah : 504 Patung Budha<br />
Sekilas patung Budha itu tampak serupa semuanya namun sesunguhnya ada juga perbedaannya perbedaan yang sangat jelas dan juga yang membedakan satu sama lainya adalah dalam sikap tangannyayang di sebut Mudra dan merupakan ciri khas untuk setiap patung sikap tangan patung Budha di Candi Borobudur ada 6 macam hanya saja karena macam oleh karena macam mudra yang di miliki menghadap semua arah (Timur Selatan Barat dan Utara) pada bagian rupadhatu langkah V maupun pada bagian arupadhatu pada umumnya menggambarkan maksud yang sama maka jumlah mudra yang pokok ada 5 kelima mudra it adalah Bhumispara – Mudra Wara – Mudra, Dhayana – Mudra, Abhaya – Mudra, Dharma Cakra – Mudra.<br />
c. Patung Singa<br />
Pada Candi Borobudur selain patung Budha juga terdapat patung singa jumlah patung singa seharusnya tidak kurang dari 32 buah akan tetapi bila di hitung sekarang jumlahnya berkurang karena berbagai sebab satu satunya patung singa besar berada pada halaman sisi Barat yang juga menghadap ke barat seolah – olah sedang menjaga bangunan Candi Borobudur yang megah dan anggun.<br />
d. Stupa<br />
- Stupa Induk<br />
Berukuran lebih besar dari stupa – stupa lainya dan terletak di tengah – tengah paling atas yang merupakan mhkota dari seluruh monumen bangunan Candi Borobudur, garis tengah Stupa induk + 9.90 M puncak yang tertinggi di sebut pinakel / Yasti Cikkara, terletak di atas Padmaganda dan juga trletak di garis Harmika.<br />
- Stupa Berlubang / Terawang<br />
Yang dimaksud stupa berlubang atau terawang ialah Stupa yang terdapat pada teras I, II, III di mana di dalamnya terdapat patung Budha.<br />
Di Candi Borobudur jumlah stupa berlubang seluruhnya 72 Buah, stupa – stupa tersebut berada pada tingkat Arupadhatu<br />
Teras I terdapat 32 Stupa<br />
Teras II terdapat 24 Stupa<br />
Teras III terdapat 16 Stupa<br />
Jumlah 72 Stupa<br />
- Stupa kecil<br />
Stupa kecil berbentuk hampir sama dengan stupa yang lainya hanya saja perbedaannya yang menojol adalah ukurannya yang lebih kecil dari stupa yang lainya, seolah – olah menjadi hiasan bangunan Candi Borobudur keberadaanstupa ini menempati relung – relung pada langkah ke II saampai langkah ke V sedangkan pada langkah I berupa Keben dan sebagian berupa Stupa kecil jumlah stupa kecil ada 1472 Buah.<br />
e. Relief<br />
Relief Karmawibhangga bagian yang terlihat sekarang ini tidaklah sebagaimana bangunan aslinya karena alasan teknis maupun yang lainya maka candi di buatkan batu tambahan sebagai penutup<br />
Relief Karmawibhanga yang terdapat pada bagian Kamadhatu berjumlah 160 buah pigura yang secara jelas menggambarkan tentang hawa nafsu dan kenikmatan serta akibat perbuatan dosa dan juga hukuman yang di terima tetapi ada juga perbuatan baik serta pahalanya.<br />
Yang di perlihatkan pada relief – relief itu antara lain:<br />
- Gambaran mengenai mulut – mulut yang usil orang yang suka mabuk – mabukan perbuatan – perbuatan lain yang mengakibatkan suatu dosa.<br />
- Perbuatan terpuji, gambaran mengenai orang yang suka menolong Ziarah ke tempat suci bermurah hati kepada sesama dan lain – lain yang mengakibatkan orang mendapat ketentraman hidup dan dapat pahala</p>
<p>BAB III<br />
PENUTUP</p>
<p>A. Kesimpulan</p>
<p>Dari semua masalah tentang sejarah brdirinya Candi Borobudur ini ternyata dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut:</p>
<p>1. Sejarah Candi Borobudur</p>
<p>Waktu didirikannya Candi Borobudur tidaklah dapat diketahui dengan pasti namun suatu perkiraan dapat di peroleh dengan tulisan singkat yang di pahatkan di atas pigura relief kaki asli Candi Borobudur ( Karwa Wibhangga ) menunjukan huruf sejenis dengan yang di dapatkan dari prasati di akhir abad ke – 8 sampai awal abad ke – 9 dari bukti – bukti tersebut dapat di tarik kesimpulan bahwa Candi Borobudur di dirikan sekitar tahun 800 M.</p>
<p>2. Letak dan Lokasi Candi Borobudur Candi</p>
<p>Borobudur terletak di Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang yang letaknya sebelah selatan + 15 km sebelah selatan kota Magelang dataran kedu yang berbukit hampir seluruhnya di kelilingi pegunungan, pegunungan yang mengelilingi Candi Borobudur di antaranya di sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Gunung Merapi Barat, Laut Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro.</p>
<p>3. Nama Dan Arti Candi Borobudur</p>
<p>Nama Borobudur berasal dari gabungan kata Boro dan Budur, Boro berasal dari kata Sangsekerta berarti “ Vihara” yang berarti komplek Candi dan Bihara atau juga asrama ( Menurut Purwacaraka Dan Stuten Herm ) sedangkan Budur dalam bahasa Bali “ Bedudur” yang artinya di Atas. Jadi nama Borobudur berarti asrama atau bahasa ( Komplek Candi ) yang terletak di atas bukit</p>
<p>B. Saran – Saran</p>
<p>Dari pembuatan karya tulis ini penulis akan menyajikan beberapa saran diantaranya:<br />
1. kita sebagai generasi muda harus menadi generasi penerus bangsa dengan cara giat belajar dan berlatih supaya menjadi siswa – siswi yang terampil dan bertaqwa<br />
2. Kita sebagai warga negara harus menjaga dan melestarikan bdaya bangsa dengan memelihara tempat – tempat bersejarah sebagai peninggalan nenek moyang kita<br />
3. penulis berharap dengan berkembangnya kebudayaan barat di harapkan pada rekan generasi muda mampu memilih dan menilia budaya yang masuk dan berusaha mempertahankan kebudayaan bangsa sendiri.</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/fransiskusharianja.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/fransiskusharianja.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/fransiskusharianja.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/fransiskusharianja.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/fransiskusharianja.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/fransiskusharianja.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/fransiskusharianja.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/fransiskusharianja.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/fransiskusharianja.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/fransiskusharianja.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/fransiskusharianja.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/fransiskusharianja.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/fransiskusharianja.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/fransiskusharianja.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=fransiskusharianja.wordpress.com&amp;blog=12214982&amp;post=8&amp;subd=fransiskusharianja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fransiskusharianja.wordpress.com/2010/02/24/asal-mula-candi-borobudur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a2f0735cff9cfe460f32c463464a590c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">fransiskusharianja</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
